Objek wisata Kabupaten TEBO.

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Ketulusan cinta dan pengorbanan


Di suatu daerah hiduplah seorang Gadis yang mengalami cacat mata,
hari-hari yang dia lalui dengan penuh kegelapan...,
jangankan bermimpi tuk mendapatkan pasangan hidup, teman2 nya saja selalu mengucilkan dia, kecuali seorang pemuda yang dengan setia selalu menemaninya kemana pun dia pergi...,
namun sang pemuda ini juga mempunyai kekurangan,
Kaki nya pendek sebelah alias pincang.

Dengan berjalannya waktu... Dan kedekatan mereka,
Sang pemuda ini telah lama jatuh hati kepada sang gadis. Namun sang gadis mempunyai satu permintaan,
jika sang pemuda ini mampu mencarikan donor mata untuk nya, maka sang gadis akan menerima Cinta nya.

Berhari - hari sang pemuda berusaha mencari yang mau mendonorkan mata nya, namun semuanya nihil..,
dan pemuda pun hampir putus asa.

Beberapa waktu kemudian Doa sang gadis yang ingin memiliki mata rupanya terkabulkan.
Ada seseorang yang rela mendonorkan matanya kepada sang gadis,
Alhasil... Operasi pun dilakukan dan berjalan dengan lancar.

Setelah operasi berjalan lancar, orang pertama yang ingin dia lihat adalah pemuda yang dulu penah menyatakan cinta kepada nya.

Akhirnya pemuda tersebut berhasil di bawa ke hadapannya..

Proses pembukaan perban pun dilakukan dengan sang pemuda tersebut di depannya...,
samar2... Dia melihat sosok lelaki yang di depan nya...,

Namun alangkah terkejut nya si gadis, begitu melihat pemuda yang dia nanti dan tunggu tersebut ternyata juga buta.
Akhir nya sang gadis pun menolak cinta sang pemuda, karna pemuda tersebut buta.

Sang pemuda hanya bisa tersenyum mendengar penolakan gadis tersebut dqn berlalu meninggalkan sang gadis,

Sebelum pergi, pemuda tersebut meninggalkan secarik kertas...,

"Aku memang tidak sempurna, Aku hanyalah pemuda yang banyak memiliki kekurangan,
Namun.. aku sangat bahagia bisa melihatmu tersenyum..
dan semoga apa yang telah aku berikan bisa memberikan kebahagian buatmu.

TOLONG JAGA MATA ITU BAIK-BAIK YA...??

dari pemuda yang sangat menyayangimu."

Lalu si pemuda berlalu meninggalkan sang gadis dengan penuh senyuman kebahagian di hatinya.
~~
Silahkan ambil hikmah nya di balik kisah tersebut.....
Share:

Tarombo dan sejarah marga sitompul



Raja Sobu diperkirakan hidup pada abad ke XV atau sekitar tahun 1455. Ia adalah keturunan ke 5 dari si Raja Batak. Ia memiliki dua orang anak. pada awal mulanya menurut sejarah dari orang tua bahwa Boru Baso paet sewaktu melahirkan ternyata yang dilahirkan adalah sebuah kantong janin yang menyerupai bola lalu si Raja sobu melihat istrinya melahirkan sebuah kantong janin seperti bola maka si Raja Sobu pun meletakkan kantong Janin tersebut di atas para-para jabu halak batak najolo setelah beberapa minggu terdengarlah suara bayi dari atas rumah tersebut dan si Raja Sobu langsung melihat ke para-para itu ternyata kantong janin seperti bola tersebut adalah 2 orang bayi mungil lantas si Raja Sobu pun menamai kedua anak tersebut dengan nama Si Raja Tinandang atau lebih dikenal Toga Sitompul dan Raja Hasibuan.

Menurut cerita, di Desa Gurgur Aek Raja, Kecamatan Tampahan Tobasa inilah Raja Toga Sitompul bertempat tinggal dan hidup bersama masyarakat disana. Dia kawin dengan seorang putri yang cantik jelita namanya Bunga Marsondang Boru Siregar.

Suatu ketika, Raja Toga Sitompul sedang santai duduk di atas pohon sambil menikmati indahnya kawasan gunung dan Tao Toba.
Dalam hatinya dia berdoa dan meminta kepada Ompu Mulajadi Nabolon agar ditunjukkan seorang putri atau gadis untuk dijadikan istri agar hidupnya tidak kesepian.

Ketika sadar dari alam angan-angannya, dia melihat ke bawah (dari atas pohon) muncul sebuah bunga yang sangat cantik dan mengeluarkan cahaya putih. Dalam bahasa batak : Bunga na bontar i na binereng nai marsinondang mansai uli.

Dia pun turun dari atas pohon hendak memetik bunga nan cantik jelita itu. Ketika dia hendak memetik bunga itu, ternyata bunga tersebut adalah seorang gadis cantik yang tidak ada tandingannya.

Mereka pun saling berkenalan dan terjadilah hubungan cinta. Gadis tersebut akhirnya menjadi istrinya dan namanya disebut Bunga Marsondang.
Terakhir diketahui Bunga Marsondang adalah Boru Siregar.

Dari hasil pernikahan Raja Toga Tompul dengan Bunga Marsondang dikaruniai satu orang anak yaitu Hobolbatu. Bunga Marsondang sangat sayang terhadap anaknya Hobolbatu.
Semua ilmu yang dimiliki Bunga Marsondang diturunkan kepada anaknya. Dan setelah besar Hobolbatu pun dikawinkan.

Istri Hobolbatu ada dua orang yaitu yang pertama Boru Sinaga dan istri kedua Boru Situmorang.
Dari istri pertama Boru Sinaga lahir dua orang anak yaitu Sabar Dilaut (Lumbantoruan) dan Handang Dilaut (Lumbandolok).

Dari istri kedua Boru Situmorang lahir tiga anak. Anak pertama adalah Sabuk Nabegu (Siringkiron).
Anak kedua lahir seorang anak perempuan namanya Mariana. (Dikenal sebagai Boru Tompul Sopurpuron) dan anak ketiga adalah Lintong Ditao (Sibange-bange).

Dari Gurgur, Ompu Hobolbatu dan keturunannya (pomparan) pindah ke arah Rura Silindung bersamaan dengan marga lain seperti Naipospos dan Sihombing. Mereka berjalan kaki menelusuri lereng bukit barisan menuju Rura Silindung. Pertama kali mereka singgah di Hutabarat. Bukti sejarah menunjukkan bahwa di Hutabarat Tarutung terdapat sebuah perkampungan bernama Huta Sitompul dan sekarang ini masih terdapat disana sebuah rumah marga Sitompul.

Dari Hutabarat sebagian pomporan sitompul pindah ke Lumban Siagian dan terakhir di Simalailai yang sekarang dikenal Desa Sitompul. Ketika mereka sampai di Tarutung Rura Silindung yang berkusa waktu itu adalah Guru Mangaloksa dan keturunnnya.
Keturunan marga sitompul tinggal di Tarutung tepatnya Desa Sitompul (sekarang).

Sabar Dilaut membangun rumah di daerah bagian bawah (disebut Lumban Toruan) dan Handang Dilaut membangun rumah di bagian atas (Lumban Dolok)
dan Lintong Ditao membangun rumah di daerah Bange-bange (makanya disebut Sibange-bange) dan Sabuk Nabegu tinggal di bibir gua dan dia selalu dikunjungi oleh abang dan adeknya.
Makanya disebut daerah Sitingkiron dan menjadi Siringkiron.

Sejak itulah Sabar Dilaut selalu dipanggil Sitompul Lumban Toruan, Hangdang Dilaut dipanggil Sitompul Lumban Dolok, Sabuk Nabegu dipanggil Sitompul Siringkiron dan Lintong Ditao dipanggil Sitompul Sibange-bange.

Sementara itu, Ompu Hobolbatu terus menelusuri gunung, lembah dan gunung sampai ke Luat Pahae, terus ke Sipirok, Padang Sidimpuan dan Gunung tua.

Di daerah-daerah tersebut dia melihat bahwa ada kehidupan. Dia pun kembali ke Tarutung dan menceritakan bahwa di daerah yang dia jalani ada kehidupan baru yang lebih baik.
Dia pun menyuruh pomparannya kesana membuka lahan pertanian.

Demikianlah tahun demi tahun, keturunan Sitompul yang ada di Tarutung hijrah secara pelan-pelan ke Luat Pahae dan daerah Sipirok Tapanuli Selatan.
Mereka menelusuri lereng gunung sampai ke daerah Pahae. Namun ada yang terus melanjutkan perjalanan sampai ke Sipirok dan Padang Sidempuan Tapanuli Selatan.

Dari Luat Pahae ada yang turun lewat gunung dan lembah sampai ke Sibolga Tapanuli Tengah. Dari Tarutung ada juga yang merantau ke Laguboti yaitu Ompu Jarangar anak kelima dari Datumanggiling.
Karena kehidupan di Pahae jauh lebih menjanjikan daripada di Rura Silindung, maka keturunan sitompul yang ada di Tarutung hijrah setelah mendengar bahwa saudara-saudaranya sudah banyak yang berhasil di Pahae.
Sampai generasi ke 8 (nomor 8 dari Raja Toga Sitompul pada tarombo) masih banyak yang hijrah ke Pahae.
Disaat itu terjadi perang Padri dan perang Bonjol.

Lumban Toruan.

Ompu Lumban Toruan mempunyai satu orang anak yaitu Raja Imbak Sahunu. Raja Imbak Sahunu punya dua anak yaitu Namora Sande Tua dan Baliga Raja.
Anak dari Namora Sande Tua tiga orang yaitu Namora Naga Timbul, Namora Banuaji dan Namora Batu Mundom (keturunannya kini ada di Silindung).

Anak dari Namora Banuaji dua orang yaitu Sutan Maimatua dan Sutan Bodiala. Keturunan Sutan Maimatua ada tiga orang yaitu Lias Raja, Sampang Raja dan Jompak Raja.
Ompu Lias Raja pergi ke Sibolga, Sampang Raja ke Janji Maria Pahae dan Jompak Raja pergi ke Sipirok. (Dalam buku Tarombo nomor urut 8 dari Raja Toga Sitompul).

Lumban Dolok.

Ompu Lumban Dolok punya dua orang anak yaitu Saur Ni Aji dan Martangga Ni Batu. Anak dari Martangga Ni Batu tiga orang yaitu Tuan Nagani (Pergi ke Sigurung-gurung Pahae), Ompu Ni Guguan (tinggal di Silindung) dan Datu Goga.

Anak dari Tuan Nagani empat orang yaitu Ompu Manggontang (keturunannya tinggal Pahae), Ompu Birong (Keturunannya ada yang pergi ke Sibolga), Ompu Panigoni (Keturunannya ada yang pergi Sidimpuan) dan Ompu Rori (keturunannya tetap tinggal Pahae).

Anak dari Ompu ni Guguan tiga orang yaitu Baha Raja, Parbalatuk Tunggal dan Buntul Mata.
Anak dari Baha Raja tiga orang yaitu Ompu Partungkoan, Ompu Solopoan dan Raja Partahian.

Anak dari Raja Partahian dua orang yaitu Ompu Lamak dan Naga Timbul (pergi ke Batu Nadua Sidimpuan).
Ompu Lamak kawin dengan Boru Siagian dan mempunyai dua anak yaitu Ama ni Batu Lamak (Pergi ke Pahae dan kawin dengan Boru Sigurung -gurung di Pahae) dan Ompu Partahian (tinggal di Silindung dan kawin dengan Boru Nainggolan).

Siringkiron.

Ompu Siringkiron anaknya hanya satu yaitu Ompu Mangarerak.
Anak dari Ompu Mangarerak juga satu yaitu Ompu Sotargomar. Dan anak dari Ompu Sotargomar ada tiga orang yaitu Ompu Singgar Diaji, Ompu Panggalang dan Ompu Tinsut.

Sesuai dengan Tarombo Siringkiron, Ompu Singgar Diaji merantau ke Madina Tapanuli Selatan dan mereka telah membuka perkampungan (huta) disana.

Sementara keturunan Ompu Panggalang sebagian merantau ke Janji Angkola dan Tapanuli Tengah dan sebagian lagi tinggal di Silindung. Dan keturunan Ompu Tinsut ada yang tinggal di Pahae dan sebagian merantau ke Janji Angkola dan Sipirok Tapanuli Selatan.

Sibange-bange.

Ompu Sibange-bange mempunyai tiga anak yaitu Sariburaja, Datu Manggiling dan Raja Tinaruan.

Saribu Raja.
Anak dari Saribu Raja enam orang yaitu Tuan Saur, Ompu Pangarisan, Namora Batu Mundom, Ompu Ni Anggara, Daruhan Lombang dan Sampulu Tua. Keturunan dari Ompu Saribu Raja pada awalnya sebagian besar sudah pergi ke Pahae.

Datu Manggiling.
Anak kedua dari Ompu Sibangebange adalah Datu Manggiling. Tarombo Datu Manggiling ada dua versi tentang jumlah anaknya. Ada yang menyebut bahwa anak dari Datu Manggiling ada lima yaitu Namora Hussus, Tuan Boksa, Ompu Soripada, Datu Mira dan Jarangar. Keturunan dari Jarangar ada dua orang yaitu Patuan Jonang dan Guru Tinandang (Datu Tandang) yang membuka perkampungan (huta) di Huta Tinggi Laguboti. Dari Huta Tinggi Laguboti anaknya yang kedua Guru Tinandang pergi ke daerah Porsea dan membuka perkampungan disana dan mereka menyebut Lumban Masopang.

Satu versi lain mengatakan bahwa anak dari Datu Manggiling ada empat orang yaitu Namora Hussus, Tuan Boksa, Mata Mira dan Dasopang.
Ompu Soripada adalah keturunan dari Namora Hussus. Ompu Soripada merantau dari Pahae ke Sibolga dan dari Sibolga datang ke Lumban Siagian Silindung dan membuka perkampungan disana.

Anak dari Namora Hussus ada tiga orang. dan anak dari Tuan Boksa yang tinggal di Simata ni Ari Pahae anaknya satu orang yaitu Raja Birong. Anak dari Raja Birong dua orang yaitu Ompu Jau dan Ompu Burju. Keturunan dari Ompu Jau sampai sekarang tinggal di Simata ni Ari Pahae dan keturunan dari Ompu Burju tinggal di Sibaganding.

Raja Tinaruan.
Anak ketiga dari Sibange-bange yaitu Raja Tinaruan tidak tinggal diam. Dia pun ikut hijrah ke dareah Pahae. Pertama kali dia tiba di Simardangiang.
Dia kawin disana dan mempunyai dua anak. Yang pertama Namora Batu Mundom dan anak kedua Tuan Nagani.

Anak kedua Tuan Nagani meninggalkan Simardangiang melintasi pegunungan dan tiba di Aek Matio.
Dari sana turun ke Adian Rahot (Adiankoting). Di Adian Rahot Ompu Tuan Nagani membuka perkampungan. Anaknya ada dua yaitu Ompu ni Gaga dan Ompu Matio.
Ompu ni Gaga mempunyai empat orang anak, yang pertama Lemlem (kembali ke Simardangiang Pahae). Anak kedua Bauk (tinggal di Adiankoting sampai sekarang).
Anak ketiga Ompu Debata (tinggal di Adian Rahot) dan anak ke empat Lumbot (pergi merantu ke Barumun Tapanuli Selatan.

Ompu Debata yang tinggal di Adian Rahot mempunyai dua anak yaitu Ompu Marbona (tinggal di Pagaran Pisang) dan Ompu Raja Sina tetap tinggal di Adian Rahot. Ompu Raja Sina mempunyai empat anak.
Yang pertama Ompu Tunggal ni Huta (pulang ke Pahae tinggal di Jonggi), anak kedua Ompu Hondi (pulang ke Pahae tinggal di Jonggi), anak ketiga Ompu Harutur pergi Soposaba (masih kecamatan Adiankoting) dan anak ke empat Ompu Rumipa kembali ke Pahae.

Sampai ke Tanah Rantau
Kini marga sitompul sudah berserak ke seluruh pelosok tanah air di Indonesia baik dari Silindung Tarutung, dari Luat Pahae dan dari Sibolga Tapanuli Tengah.
Bahkan sudah ada yang tinggal menetap di luar negeri.

Marga Sitompul sama dengan marga lainnya suka merantau ke kota besar. Alasan merantau diantaranya sekolah dan mencari kerja. Daerah tempat merantau diantaranya Pematang Siantar, Medan, Jakarta, Surabaya, Duri, Pekanbaru, Jambi dan daerah lainnya.

Marga Sitompul hampir sudah ada di setiap provinsi di Indonesia.
Sudah banyak marga sitompul yang berhasil, diantaranya ada yang menjadi Menteri, Kapolda, Hakim, Jaksa, Pengacara beken, anggota DPR RI, Pengusaha dan jabatan penting lainnya di Indonesia.
Bahkan ada marga sitompul yang pernah memegang jabatan Menteri yaitu Ir Mananti Sitompul yang menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum/Menteri Kesehatan dimasa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948.

Penyakit Kolera.
Menurut cerita yang didapat Sihol Sitompul, pada awalnya, pomparan Sitompul sudah merantau ke Pahae, tapi perpindahan besar-besaran (eksodus) terjadi ketika daerah Tapanuli mengalami penyakit Kolera. Penyakit Kolera ini terjadi ketika perang Padri.

Ribuan orang tewas mengenaskan akibat perang dan tergelatak begitu saja di kampung-kampung, di jalanan dan ada yang dibuang begitu saja.
Mayat membusuk mengakibatkan bau busuk. Muncullah penyakit kolera yang mengakibatkan kematian.

Melihat situasi dan kondisi demikian, maka banyak masyarakat yang meninggalkan Rura Silindung. Khusus marga sitompul, mereka pergi ke Pahae menemui saudara-saudaranya yang sudah terlebih dahulu merantau ke daerah tersebut. Dari Luat Pahae, sebagian dari mereka berangkat ke Sibolga, ke Adiankoting, ke Sipirok dan daerah lain.


(Dikutip secara utuh dari Buku Sejarah Punguan Raja Toga Sitompul dan Boru Pekanbaru Sekitarnya).
Share:

Sejarah kalender batak kuno



Mengulas mengenai sistem perkalenderan, ternyata suku–suku di Indonesia juga memiliki sistem perkalenderannya sendiri lho. Bahkan setiap suku dalam satu bulan memiliki sistem perkalenderan masing – masing, termasuk juga dengan Suku Batak. 

Orang Batak Toba di zaman dahulu kala memiliki Penanggalan sendiri. Mereka membagi 1 bulan dengan 30 hari. Mereka memberi nama tiap - tiap Hari dalam 1 bulan.

Hari ke - 1 : Artia.
Hari ke - 2 : Suma.
Hari ke - 3 : Anggara.
Hari ke- 4 : Muda.
Hari ke - 5 : Boraspati.
Hari ke - 6 : Singkora.
Hari ke - 7 : Samisara.
Hari ke - 8 : Antian Ni Aek.
Hari ke - 9 : Suma Ni Mangadop.
Hari ke-10: Anggara Sampulu.
Hari ke-11: Muda Ni Mangadop.
Hari ke-12: Boraspati Ni Tangkup.
Hari ke-13: Singkora Purnama.
Hari ke-14: Samisara Purasa.
Hari ke-15: Tula.
Hari ke-16: Suma Ni Holom.
Hari ke-17: Anggara Ni Holom.
Hari ke-18: Muda Ni Holom.
Hari ke-19: Boraspati Ni Holom.
Hari ke-20: Singkora Moraturun.
Hari ke-21: Samisara Moraturun.
Hari ke-22: Antian Ni Angga.
Hari ke-23: Suma Ni Mate.
Hari ke-24: Anggara Ni Begu.
Hari ke-25: Muda Ni Mate.
Hari ke-26: Boraspati Na Gok.
Hari ke-27: Singkora Duduk.
Hari ke-28: Samisara Buan Mate.
Hari ke-29: Hurung.
Hari ke-30: Ringkar.

Goar goarni Bulan ni Kalender Batak

1. Januari :Sipaha 10
2. Februari :Li
3. Maret :Hurung
4. April :Sipaha 1
5. M e i :Sipaha 2
6. J u n i :Sipaha 3
7. J u l i :Sipaha 4
8. Agustus :Sipaha 5
9. September :Sipaha 6
10. Oktober :Sipaha 7
11. Nopember :Sipaha 8
12. Desember :Sipaha 9

Pembagianni Tikki ( waktu ) dibagasan sadari ( 1 Hari 24 jam)

Jam 6-8 = Sogot
Jam 8-11 = Pangoloi
Jam 12-13 = Hos ni ari
Jam 14-17 = Guling
Jam 18-20 = Bot
Jam 20-23 = Borngin
Jam 24 = Tonga Borngin
Jam 1-4 = Buha Ijuk
Jam 5 = Torang ari.

Delapan hari yang wajib kamu hindari dalam kalender Batak:

Hari ke –  9

Hari kesembilan tiap bulannya dalam kalender Batak dinamakan SUMA NI MANGADOP. Hari kesembilan ini diartikan sebagai hari yang kurang baik lho. Kamu sebaiknya waspada akan segala hal.

Hari ke  – 10

Hari kesepuluh tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan ANGGARA SAMPULU. Hari kesepuluh ini diartikan sebagai hari yang sial. Sebaiknya kamu dapat lebih berhati – hati dalam berkomunikasi.

Hari ke – 15

Hari kelima belas tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan TULA. Hari kelimabelas ini juga diartikan sebagai hari yang sial. Bedanya dengan hari kesepuluh, TULA  biasanya membuat orang menjadi malas.

Hari ke – 17

Hari ketujuh belas tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan ANGGARA NI HOLOM. Hari ketujuhbelas ini juga diartikan sebagai hari yang sial.

Hari ke-21

Hari keduapuluh satu tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan SAMISARA MORATURUN.  Hari keduapuluhsatu ini diartikan juga sebagai hari yang sial. Ada baiknya kamu memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hari ke – 27

Hari keduapuluh tujuh tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan SINGKORA DUDUK. Hari keduapuluhtujuh ini diartikan juga sebagai hari yang sial. Hal yang sebaiknya kalian lakukan adalah berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Hari ke – 28

Hari keduapuluh delapan tiap bulannya dalam sistem Kalender Batak dinamakan SAMISARA BULAN MATE. Hari keduapuluhdelapan ini sebenarnya tidak diartikan sebagai hari yang buruk namun juga bukan diartikan sebagai hari yan baik. Hanya saja yang perlu kalian perhatikan adalah hati–hati dalam berbicara dan bertindak.

Hari ke – 29

Hari ke duapuluh sembilan dalam sistem Kalender Batak dinamakan HURUNG. Hurung diartikan sebagai hari yang kurang baik. Hal yang harus kalian perhatikan adalah berhati – hati dalam urusan membuat sebuah rencana dan berhati–hati melangkah.

Jadi selama satu bulan menurut Kalender Batak terdapat delapan hari yang wajib atau sebaiknya kalian hindari. Namun jangan khawatir karena itu tandanya kamu mempunyai 22 hari baik. Memang di era modern saat ini, kepercayaan akan sistem penanggalan tradisionil sudah jarang digunakan. Namun, belajar mengenai budaya sendiri tidak ada salahnya. Malah dapat menambah wawasan kita akan budaya sendiri.
Share:

Pendukung

Artikel Populer

 
Back to Top