Dimanakah jejak ibukota Sriwijaya

Baca Juga

DI Shili Foshi, pada pertengahan bulan delapan dan pertengahan musim semi (bulan dua), lempeng jam (bayangan tiang) tidak berbayang. Seseorang yang berdiri di tengah hari tidak berbayang. Matahari tepat di atas kepala dua kali dalam setahun.

Itulah sekelumit informasi yang diberikan I-Tsing atau Yi Jing, biksu Tiongkok tentang letak pusat Kerajaan Sriwijaya dalam bukunya Nanhai. Yi Jing merupakan salah satu dari tiga peziarah terkenal asal Tiongkok. Pendahulunya adalah Fa Xian dan Xuan Zang.

Sejauh ini letak pusat Kadatuan Sriwijaya masih menjadi persoalan. Pasalnya ibu kotanya berpindah-pindah. Sejarawan India, Ramesh Chandra Majumdar, berpendapat kalau Sriwijaya harus dicari di Jawa. Sarjana Belanda, J.L. Moens menduga Sriwijaya berpusat di Kedah (Malaysia) dan pindah ke Muara Takus (Jambi). Sementara sejarawan lainnya, G. Coedes, Slamet Muljana, dan O.W. Wolters, lebih memilih Palembang.

Berdasarkan prasasti-prasasti Sriwijaya yang ditemukan di Palembang, diduga lokasi kota Sriwijaya adalah Palembang. Prasasti Kedukan Bukit misalnya, yang tertanggal 16 Juni 682 M menandai dibangunnya sebuah perkampungan. Prasasti Talang Tuo, tertanggal 23 Maret 684 M, menandai dibangunnya Taman Sri Ksetra. Prasasti Telaga Batu menandai pejabat-pejabat yang disumpah.

“Semuanya ditemukan di Palembang, merupakan suatu bukti bahwa Palembang merupakan Kota Sriwijaya,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dalam acara Borobudur Writers and Cultural Festival, di Hotel Manohara, Magelang.

Bambang menjelaskan berdasarkan catatan Yi Jing yang kemudian dihitung secara astronomis, lokasi Shili Foshi diduga berada tak jauh dari Palembang. “Bila diukur berdasarkan soltice, yang dapat dikatakan akurat, Shili Foshi tidak terletak di Kota Palembang sekarang atau di sekitar Upang-Sungsang di muara Sungai Musi,” kata Bambang.

Namun, Bambang melanjutkan, jika diukur berdasarkan musim, kemungkinan letak Shili Foshi yang terdekat dengan Palembang berada di sekitar Kuala Tungkal Jabung. Hal ini sesuai dengan pendapat pakar epigrafi, Boechari, kalau Yi Jing menulis catatannya tentang gnomon (bayangan tiang) saat dia berada di suatu wilayah Shili Foshi, bukan di ibukota Shili Foshi.

Yi Jing juga menulis mengenai perluasan wilayah kekuasaan Sriwijaya ketika dia kembali ke Melayu pada 685 atau awal 686 M. “Kami singgah hingga musim dingin tiba, kapal berlayar ke arah selatan sekira sebulan dan tiba di Melayu, yang sekarang sudah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya,” catat Yi Jing.

Itu pas dengan apa yang tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada 683, Sri Dapunta Hyang mengadakan pawai kemenangan (jayasiddhayatra) atas penaklukan Melayu.

Dalam tulisannya, Yi Jing menggunakan dua istilah berbeda untuk menyebut Sriwijaya: Fo-shi dan Shili Foshi secara bergantian. Shinta Lee, penerjemah catatan perjalanan Yi Jing menduga, ibukota Sriwijaya awalnya disebut Fo-shi. Namun kerajaan itu berkembang pesat dan meluas hingga Melayu, yang kemudian menjadi daerah kekuasaan raja Fo-shi.

“Maka keseluruhan kawasan dan juga ibukotanya menyandang istilah Shili Foshi,” ujarnya.

Sumber: historia
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda yang sesuai dengan pokok bahasan.

Diharap tidak menggunakan akun G+

Pendukung

Artikel Populer

 
Back to Top