Objek wisata Kabupaten TEBO.

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Objek wisata Kabupaten TEBO

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Syekh Ibrahim sitompul tokoh Islam dari tanah batak


Pada tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola berusaha memecah belah masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, sesuai dengan misi Devide et Impera dengan menerapkan gagasan untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu.

A.P. Godon yang sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: "Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen." (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).

Pada tahun 1889, Gubernur Jenderal pemerintah penjajah Belanda mengeluarkan surat keputusan rahasia yang menentukan antara lain bahwa di daerah yang penduduknya tidak memeluk agama Islam, tidak boleh diangkat kepala desa atau pegawai muslim. Peraturan atau kebiasaan yang mendukung Islam pun tidak dibenarkan. (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).

Dua orang residen Tapanuli bernama Westenberg dan Barth kemudian membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak senang melihat perubahan kepada Islam, bahkan Westenberg memberi contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim, 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.

Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama 23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul. Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas dasar beslit rahasia 1889.

Syeikh H Ibrahim melakukan perlawanan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr. Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan, laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909. Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang digariskan pada tahun 1889.

Sikap Residen Westenberg kemudian dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa adanya.

Di lain pihak pada tahun 1903, Janji Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan pengaduan tersebut. (Lihat; "Christelijke Zending en Islam in Indonesia", dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93. Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru.

Sekalipun jumlah warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim Sitompul.

Residen Vorstman sadar dengan instruksi rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini berhasil unjuk gigi.

Sumber: dinulislami.blogspot.com

Share:

Sejarah kalender batak kuno



Mengulas mengenai sistem perkalenderan, ternyata suku–suku di Indonesia juga memiliki sistem perkalenderannya sendiri lho. Bahkan setiap suku dalam satu bulan memiliki sistem perkalenderan masing – masing, termasuk juga dengan Suku Batak. 

Orang Batak Toba di zaman dahulu kala memiliki Penanggalan sendiri. Mereka membagi 1 bulan dengan 30 hari. Mereka memberi nama tiap - tiap Hari dalam 1 bulan.

Hari ke - 1 : Artia.
Hari ke - 2 : Suma.
Hari ke - 3 : Anggara.
Hari ke- 4 : Muda.
Hari ke - 5 : Boraspati.
Hari ke - 6 : Singkora.
Hari ke - 7 : Samisara.
Hari ke - 8 : Antian Ni Aek.
Hari ke - 9 : Suma Ni Mangadop.
Hari ke-10: Anggara Sampulu.
Hari ke-11: Muda Ni Mangadop.
Hari ke-12: Boraspati Ni Tangkup.
Hari ke-13: Singkora Purnama.
Hari ke-14: Samisara Purasa.
Hari ke-15: Tula.
Hari ke-16: Suma Ni Holom.
Hari ke-17: Anggara Ni Holom.
Hari ke-18: Muda Ni Holom.
Hari ke-19: Boraspati Ni Holom.
Hari ke-20: Singkora Moraturun.
Hari ke-21: Samisara Moraturun.
Hari ke-22: Antian Ni Angga.
Hari ke-23: Suma Ni Mate.
Hari ke-24: Anggara Ni Begu.
Hari ke-25: Muda Ni Mate.
Hari ke-26: Boraspati Na Gok.
Hari ke-27: Singkora Duduk.
Hari ke-28: Samisara Buan Mate.
Hari ke-29: Hurung.
Hari ke-30: Ringkar.

Goar goarni Bulan ni Kalender Batak

1. Januari :Sipaha 10
2. Februari :Li
3. Maret :Hurung
4. April :Sipaha 1
5. M e i :Sipaha 2
6. J u n i :Sipaha 3
7. J u l i :Sipaha 4
8. Agustus :Sipaha 5
9. September :Sipaha 6
10. Oktober :Sipaha 7
11. Nopember :Sipaha 8
12. Desember :Sipaha 9

Pembagianni Tikki ( waktu ) dibagasan sadari ( 1 Hari 24 jam)

Jam 6-8 = Sogot
Jam 8-11 = Pangoloi
Jam 12-13 = Hos ni ari
Jam 14-17 = Guling
Jam 18-20 = Bot
Jam 20-23 = Borngin
Jam 24 = Tonga Borngin
Jam 1-4 = Buha Ijuk
Jam 5 = Torang ari.

Delapan hari yang wajib kamu hindari dalam kalender Batak:

Hari ke –  9

Hari kesembilan tiap bulannya dalam kalender Batak dinamakan SUMA NI MANGADOP. Hari kesembilan ini diartikan sebagai hari yang kurang baik lho. Kamu sebaiknya waspada akan segala hal.

Hari ke  – 10

Hari kesepuluh tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan ANGGARA SAMPULU. Hari kesepuluh ini diartikan sebagai hari yang sial. Sebaiknya kamu dapat lebih berhati – hati dalam berkomunikasi.

Hari ke – 15

Hari kelima belas tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan TULA. Hari kelimabelas ini juga diartikan sebagai hari yang sial. Bedanya dengan hari kesepuluh, TULA  biasanya membuat orang menjadi malas.

Hari ke – 17

Hari ketujuh belas tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan ANGGARA NI HOLOM. Hari ketujuhbelas ini juga diartikan sebagai hari yang sial.

Hari ke-21

Hari keduapuluh satu tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan SAMISARA MORATURUN.  Hari keduapuluhsatu ini diartikan juga sebagai hari yang sial. Ada baiknya kamu memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hari ke – 27

Hari keduapuluh tujuh tiap bulannya dalam sistem kalender Batak dinamakan SINGKORA DUDUK. Hari keduapuluhtujuh ini diartikan juga sebagai hari yang sial. Hal yang sebaiknya kalian lakukan adalah berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Hari ke – 28

Hari keduapuluh delapan tiap bulannya dalam sistem Kalender Batak dinamakan SAMISARA BULAN MATE. Hari keduapuluhdelapan ini sebenarnya tidak diartikan sebagai hari yang buruk namun juga bukan diartikan sebagai hari yan baik. Hanya saja yang perlu kalian perhatikan adalah hati–hati dalam berbicara dan bertindak.

Hari ke – 29

Hari ke duapuluh sembilan dalam sistem Kalender Batak dinamakan HURUNG. Hurung diartikan sebagai hari yang kurang baik. Hal yang harus kalian perhatikan adalah berhati – hati dalam urusan membuat sebuah rencana dan berhati–hati melangkah.

Jadi selama satu bulan menurut Kalender Batak terdapat delapan hari yang wajib atau sebaiknya kalian hindari. Namun jangan khawatir karena itu tandanya kamu mempunyai 22 hari baik. Memang di era modern saat ini, kepercayaan akan sistem penanggalan tradisionil sudah jarang digunakan. Namun, belajar mengenai budaya sendiri tidak ada salahnya. Malah dapat menambah wawasan kita akan budaya sendiri.
Share:

Sejarah nasi menjadi makanan pokok



Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis, beras merupakan bahan makanan utama di antara sumber nabati lainnya. Bahan ini merupakan sumber makanan pokok masyarakat Jawa Kuno.

Padi muncul dalam sumber prasasti, kesusastraan, dan relief. Sawah dan padi disebutkan dalam teks Ramayana. Sistem pertanian sawah yang menghasilkan padi ada dalam relief cerita Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur dan relief Candi Minakjinggo di Trowulan.

Bulir-bulir padi juga ditemukan di situs permukiman yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Bukti adanya aktivitas pertanian ini didapatkan dari Situs Liyangan, yang ada di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Begitu pun nasi. Selain dalam Prasasti Rukam, nasi yang disajikan bersama makanan lainnya dalam upacara sima muncul pula dalam Prasasti Panggumulan (824 Saka), Prasasti Sangguran (850 Saka), dan Prasasti Taji (823 Saka).

Sementara prasasti juga menyebutkan nasi dalam berbagai variasi ketika menjadi menu utama dalam upacara makan bersama penetapan daerah perdikan. Riboet Darmosoetopo, ahli epigrafi UGM, dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU menyebutkan beberapa jenis masakan dari nasi yang pernah disebut dalam prasasti. Di antaranya skul liwêt atau nasi yang ditanak dengan pangliwêtan, skul dinyun atau nasi yang ditanak dengan periuk, dan skul matiman atau nasi yang ditim.

Produksi beras
Karena menjadi makanan pokok, usaha untuk meningkatkan produksi padi pun sudah dilakukan sejak masa lalu. Prasasti dari masa Jawa Kuno memberikan petunjuknya.

Paling tidak, kata Supratikno, upaya perluasan tanah sawah secara besar-besaran terjadi pada akahir abad ke-9 M. Ini sebagaimana yang terbaca dalam beberapa prasasti dari masa pemerintahan Kayuwangi (855-885 M). Dalam waktu yang relatif pendek padang rumput, kebun, tegalan, ladang ilalang, dan hutan beralih status menjadi sawah.


Di luar itu, beras telah menjadi sumber ekonomi pertanian. Berdasarkan Prasasti Pihak Kamalagi atau Kuburan Candi dari 743 Saka (831 M), Prasasti Watukura I dari 824 Saka (903 M), disebutkan adanya lahan sawah, ladang, rawa, dan kebun yang menjadi sima. Artinya, menurut Titi, sebelum tanah-tanah itu diresmikan menjadi sima adalah tanah yang kena pajak.

“Dengan adanya keterangan yang memberikan gambaran bahwa kebun juga dikenai pajak, maka dapat diartikan kebun telah memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi,” jelas Titi dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI Masehi.

Dalam Prasasti Panggumulan (824 Saka) dikatakan juga adanya orang-orang yang menjual beras dari Desa Tunggalangan ke pasar di Desa Sindingan. Lalu dari berita Tiongkok masa Dinasti Sung juga diketahui kalau pada masa itu beras, bersama sejumlah komoditas lainnya, telah diekspor dari pelabuhan Jawa.
Share:

Asal usul alat tulis pulpen atau pena dan spidol


PADA 5000 SM, manusia mulai mengenal huruf-huruf dalam sistem tulisan. Sejak itulah berbagai media tulisan digunakan untuk mengekspresikan pikiran. Di atas berbagai perabot rumah, tanah liat, batu, piramida, cangkang kerang, dan logam, manusia lampau ribuan tahun lalu menuangkan segala ide dan kisahnya dengan menggunakan alat tulis.

Pada 4000 SM, alat tulis mulanya adalah perkakas sederhana yang runcing di bagian ujung. Terbuat dari batu, kayu, atau tulang hewan. Teknologi masa kini memanjakan manusia dengan komputer atau tablet yang mampu membantu proses menulis. Inilah perkembangan alat yang dipakai manusia untuk menggoreskan kata demi kata, dari masa ke masa.

Batu Runcing

Goresan pertama manusia pada masa prasejarah berada di dinding-dinding gua, tempat mereka tinggal. Asal goresan tersebut diperkirakan sejak akhir masa Plestosen. Alat untuk menggores dinding goa tersebut adalah batu runcing (gurdi). Gurdi ini berupa kepingan batu yang dihaluskan, yang biasanya dapat pula untuk melubangi kulit binatang.

Pena Buluh

Pada 3000 SM penduduk Mesir menggunakan buluh tebal atau bambu kecil sebagai pena. Buluh tersebut diruncingkan ujungnya supaya dapat digunakan menggores lempengan tanah liat. Dengan pena buluh ini, masyarakat Mesir mengembangkan aksara Hieroglyph. Pena buluh ini digunakan pula masyarakat Arab kuno untuk menulis perkamen.

Kuas

Alat berupa kuas mulai digunakan sebagai peranti menulis sejak 3000 SM. Orang-orang dari peradaban Mesir Kuno menggunakannya untuk menulis di atas papyrus. Kuas terbuat dari helai rambut, diikat menjadi satu, disertai tangkai. Sementara tintanya terbuat dari campuran arang pinus, minyak lampu, dan gelatin dari kulit binatang.

Sejak 1200-an SM, Asia terutama Tiongkok, telah mengenal teknik sapuan kuas dalam menulis. Di berbagai peradaban dunia sapuan kuas dalam menulis juga menjadi seni yang indah.

Pena Alang Alang

Masyarakat Mesir pun tercatat menggunakan pena alang-alang untuk menulis di daun papyrus. Tak sembarang alang-alang. Batang alang-alang yang kecil dan kuat justru menjadi pilihan. Batang alang-alang tersebut kemudian disimpan di bawah timbunan pupuk kandang hingga berubah warna jadi hitam bercampur kuning serta menjadi keras dengan permukaan halus.

Quill

Quill atau alat tulis dari bulu, umumnya bulu angsa atau bulu ayam, dikenal sejak masa Mesir Kuno. Seorang juru tulis kerajaan di Mesir sekira tahun 3000 SM menggunakan bulu yang dikunyah ujungnya agar membentuk filamen sebagai penahan tinta.

Di Eropa, quill digunakan sejak abad ke-6 pertama kali muncul di Sevilla, Spanyol. Dengan adanya quill, orang-orang Eropa lantas mengubah gaya tulisan jadi lebih kecil. Meski tak praktis karena harus dicelupkan berkali-kali ke dalam tinta. Alat tulis ini masih dipakai hingga abad ke-19.

Stylus

Adalah bangsa Romawi yang kali pertama menggunakan stylus, peranti menulis dari logam, pada 1300 SM. Stylus digunakan sebagai alat tulis pada media tablet kayu yang dilapisi lilin tipis. Stylus tak menggunakan tinta karena tajamnya ujung stylus mampu membentuk tulisan pada lilin. Ujung atas stylus biasanya lebih lebar karena digunakan untuk menggosok lilin yang dipakai menghapus tulisan. Serupa stylus tradisional, teknologi terkini menggunakannya sebagai alat bantu pada peranti layar sentuh.

Pensil

Pada 1564 seorang tak dikenal menemukan potongan-potongan hitam mengkilap di sekitar akar pohon yang tumbang di Borrowdale, Inggris. Potongan hitam yang kemudian dikenal sebagai grafit ini bikin gempar karena ternyata dapat digunakan untuk menulis dan menggambar. Mulanya grafit hanya dilekatkan pada sebilah kayu seukuran alat tulis.

Pada 1795, seorang ahli kimia Prancis, Nicholas Conté, mematenkan temuannya untuk pembuatan pensil. Dia mencampur grafit dan tanah liat lalu membakarnya sebelum dislipkan di antara potongan kayu bercelah. Setelah itu, muncul beragam inovasi, dari pengaturan ketebalan hasil tulisan hingga pensil warna.

Meski pensil kayu masih bertahan hingga kini, namun telah ditemukan pensil bentuk lain, yakni pensil mekanik yang mulai populer pada abad ke-19. Pemilik paten pensil mekanik adalah Sampson Mordan dan John Isaac Hawkins. Lantaran pensil ini selalu tajam tanpa harus diraut, maka banyak orang umumnya beralih menggunakan pensil mekanik.

Pena

Mulanya pena modern adalah semacam pena bulu yang ujungnya diganti logam tajam. Ujung pena masih harus dicelupkan ke dalam tinta sebelum menulis. Kemudian ditemukan pena pada 1702 yang mampu menyimpan tinta dan dapat diisi ulang tapi desainnya tak praktis.

Lewis Waterman, seorang pialang asuransi, pada 1884, menciptakan pena dengan saluran yang memungkinkan udara dan tinta bergerak secara simultan. Kemudian beberapa tahun setelahnya ditemukan konsep ballpoint yang mampu menciptakan pena dengan tinta yang keluar hanya saat ditekan untuk menulis. Pada 1940-an Lazlo dan Biro menyempurnakan prinsip ballpoint. Sekitar 1980-an diciptakan roller ball pen yang menggunakan tinta lebih cair dibandingkan ballpoint biasa sehingga mengharuskan penggunaan tutup pada pena.

Spidol

Spidol dikenal sebagai alat tulis dengan beragam aplikasi. Spidol digunakan, misalnya untuk menulis di whiteeboard atau penulisan yang umumnya menginginkan beragam warna. Sementara anak-anak kerap menggunakan spidol sebagai alat mewarnai. Spidol dengan ujung lebih tebal seringkali digunakan sebagai penanda. Adalah Lee Newman yang kali pertama mematenkan spidol pada 1910. Alat tulis ini memiliki resapan tinta dan ujung pena dari serat.

Itulah ulasan dari sejarah perkembanga alat tulis, dan dengan kemajuan zaman sekarang ini, sudah ada nya laptop, komputer, dan android yang sangat mendukung bagi kita untuk menulis sepuas nya,
Bisa melalui jejaring sosial maupun melalui blog atau istilah keren nya sekarang BLOGGER.

Dan kita termasuk generasi yang sangat beruntung, bisa menikmati masa- masa indah nya permainan tradisional atau melukis dan menggambar, menulis yang masih menggunakan pensil biasa dan pensil warna.
kini... kita juga bisa menikmati menulis di atas gadget, yang menulis tanpa pulpen dan tinta, cukup sentuh layar monitor gadget, kita sudah bisa merangkai kata dan bisa menulis semau nya melalui media blog.


Dan kita tidak tahu kedepan nya nanti akan lebih canggih seperti apa, semoga kita masih bisa di berikan waktu untuk menyambut itu


Sumber: history
Share:

Legenda perahu kajang lako


Perahu atau kapal terlahir sebagai jawaban atas tantangan alam perairan.

Pada prinsipnya jawaban atas tantangan alam perairan itu adalah segala sesuatu yang dibuat atau digunakan dapat dan mampu mengapung, mengangkut manusia dan
bawaannya, dapat dikendalikan ketempat yang dituju.

Benda seperti itu adalah rakit (kayu, bambu) perahu rakit, perahu (lesung, papan) dan sebagainya. Alat penggeraknya dayung atau galah (tongkat panjang dari bambu, kayu) kemudian berkembang dengan adanya kemampuan menempatkan angin melalui layar, setelah itu ke mesin.

Jejak kuno yang menunjukkan pengenalan masyarakat Jambi tentang perahu memang tidak atau belum diketemukan.

Temuan arkeologi atau sejarah lainnya dapat dikatakan sedikit sekali itupun sudah memasuki abad IV melalui informasi dari berita - berita Cina terhadap utusan - utusan Melayu Chan-pi, Suwarnabhumi atau San-fo- tsi, Temuan arkeologi terdekat adalah berlokasi di daerah Palembang. Prasasti Kedukan Bukit menoreh kata - kata Bahasa Melayu "Samwan" yang menurut sebagian ahli adalah kata - kata yang melukiskan kaitan nama atau alat transportasi air armada perang Sriwijaya di akhir abad ke tujuh (Coedes, 1930).

Di situs Bukit Jakas di Riau, ditemukan sisa- sisa perahu yang berasal dari abad 15 - 16 M. Perahu ini diduga mempunyai tiang layar tiga buah sebagai perahu dagang (Manguin 1989).

Situs Ujung Pelancu Suak Kandis di Lambur I Muara Sabak juga memendam pecahan atau serpihan kayu perahu/ kapal. Sampai saat ini bentuk sebenarnya belum dapat terakumulasi begitu juga pemikiran pembuatnya berasal dari dalam atau luar jambi dan milik siapa pedagang atau milik Kerajaan.
Tradisi pembangunan perahu diperkirakan sudah cukup lama, perjalanan Proto Melayu atau Detro Melayu dari daratan Asia ke daratan Nusantara diduga ada yang menggunakan sarana transportasi air ini.

Perahu jenis lesung (Dugout Canoe) atau perahu papan (Planked Boat) berbentuk pipih memanjang, pajang agak tambun, runcing di haluan dan pepak di buritan, bulat panjang, masih di jumpai di DAS dan sub - sub DAS Batang Hari.

Demikian juga penggunaannya pada masa - masa Kerjaan Melayu kuno. Dugaaan ini diperkuat oleh runutan titik - titik lokasi situs percandian di sepanjang DAS Batang Hari abad - abad VII - XIII atau sebelum itu seperti dalam berita Cina di abad IV - V yang menyebut kedatangan utusan - utusan dari Kuntala atau San Fo Tsi, Chan PI, Moloyu. Sayangnya torehan gambar perahu di batu bata Situs Candi Muara Jambi sangat sederhana sekali.

Informasinya kurang jelas dan lengkap atas garis gambar perahu seperti belahan semangka. Selebihnya tidak atau belum ditemukan goresan pendukung lainnya. Penjenisan perahu lesung atau perahu papan lebih kepada cara pembuatannya.
Dengan melihat lunasnya, bila sampan/ perahu tersebut terdiri dari satu batang kayu (pohon) yang dikeruk bagian dalamnya sehingga terlihat seperti lesung memanjang itulah sampan/ perahu lesung.

Pinggiran perahu ada yang seutuhnya dan ada juga yang ditinggikan dengan papan - papan untuk memperbesar kapasitas muatan atau untuk menghindarkan cipratan air kedalam perahu.
Oleh keterbatasan besaran pohon maka sampan/ perahu ini dianggap berukuran kecil atau terbatas.

Dari keterbatasan itulah mungkin yang mendorong pembuatan sampan/ perahu papan yang dibuat tidak tergantung pada sebatang pohon.
Untuk perahu papan ini banyak mempunyai sangga batang - batang kayu yang disebut gading - gading. Batang gading - gading inilah yang membentuk kerangka perahu dengan berbagai macam fariasi besarannya menurut kebutuhannya.

Bentuk dan ukuran perahu tergantung pada besaran dan banyaknya gading- gading yang di pakai. Perahu yang besar disebut sebagai kapal atau jung dan tongkang.

Pada perahu papan digunakan banyak pena (paku/ pasak) kayu untuk menyambung bilah - bilah papan perahu. Dengan perkembangan perlengkapan maka pena kayu kemudian diganti baut, skrup atau paku.

Celah - celah sambungan susunan papan diberi dempul atau ijuk, tali rami, kain dan ditutup dempul. Pada bagian haluan ada yang dimasukan "kayu berukir" beragam bentuk atau hanya lurusan saja. Kalau kayu itu berbentuk naga maka perahu itu disebut perahu naga. Perahu yang berkuran besar dikemudian hari tidak dari kayu tetapi dibuat dari lempengan baja sesuai dengan kebutuhannya.

Perahu - perahu atau sampan melaju diatas permukaan air dengan kekuatan dayung atau dengan galah. Dayung - dayung dapat dilakukan oleh seorang saja tapi bisa juga menggunakan bilah dayung yang diletakkan kiri kanan sampan/ perahu. Untuk perlombaan perahu atau lomba dayung maka pendayungnya lebih dari satu orang sesuai dengan kelas - kelas yang diperlombakan.

Dengan diketemukannya mesin maka kekuatan dayung dilakukan oleh mesin berbaling dalam atau berbaling luar. Perahu selain berfungsi sebagai alat transportasi, hampir di sebagian besar kota/ desa di pinggiran sungai dan anak - anak sungai Batang Hari, perahu juga digunakan untuk acara - acara seperti lomba perahu, perahu berhias atau perahu upacara yang disebut dengan "Kajang Lako" atau "Lancang Kuning" di wilayah di pesisir pantai timur Jambi.

Apa pengertian Kajang Lako sampai saat ini belum di sepakati, selain bahwa perahu Kajang Lako adalah perahu yang digunakan oleh Raja atau penguasa Negeri yang di iringi oleh pengawal dan rombongan lainnya untuk berleko - leko berarti santai, bersenang - senang, atau melakukan perjalanan inspeksi kedaerah - daerah bawahan.

Kata leko awalnya adalah lela (Melayu) yang mempunyai arti antara lain elok, gagah, kuat, gembira, bergaya, tampan menyegarkan badan.
Sebutan ini sesuai dengan bentuk perahu yang berhias elok, bergaya dengan beragam ornamen dan aksesoris.

Bangunan fisik perahu jelas kuat dan salah satu fungsinya adalah untuk media bersantai, bersenang sambil melakukan inspeksi kehulu atau kehilir sungai sebagai urat nadi transportasi. Kemudian kata lela atau leko ini mengalami perubahan bunyi menjadi leko, kajang berarti atap. Yang jelas, sampai saat ini sebutan perahu Kajang Lako adalah sejenis perahu berhias indah, beratap untuk berteduh atau duduk - duduk didalamnya yang umumnya tidak berdinding.

Keindahan terlihat dari ragam hias yang dikenakan pada atap kajang dengan ukiran resplang, kayu layar, tepian perahu. Kita belum tahu apakah haluannya diawal berupa hiasan kepala naga atau kepala itik besak (angso) seperti yang kita lihat sekarang.

Cerita - cerita lama belum ada yang menceritakan secara rinci bentuk detail dari haluan Kajang Lako tersebut. Profil naga atau angso lebih pada mewujudkan mitos naga atau legenda sepasang itik besar dalam kisah penemuan Tanah pilih oleh Orang Kayo Hitam setelah menyunting Putri Mayang Mangurai Putri Tumenggung Merah Mato penguasa Air Hitam Pauh.

Legenda ini juga dalam versi Tebo Ulu dilakukan oleh Putri Selaro Pinang Masak bersama suaminya Datuk Paduko Berhalo setelah mendapat restu dari orang tua Putri di Ranah Pagaruyung, menghilir ke Jambi dengan perahu Kajang Lako.

Legenda ini diperkirakan terjadi dimasa sekitar 1460 M untuk perjalanan Putri Selaro Pinang Masak dan dipenghujung abad ke-15 (Antara 1495 an M) oleh Orang Kayo Hitam. Gambaran adanya perahu kajang lako ini juga lebih jauh dapat kita ambil uraian Berita Cina dari Chu-Fan-Chi (1225 M) yang menulis bahwa ada tembok batu merah sepanjang beberapa puluh M mengelilingi Kota Suwarnabhumi.

Bila sang Raja keluar, ia akan naik perahu, badannya dibungkus dengan man-pu, duduk dibawah payung sutra dan dijaga oleh para penjaga yang memegang tombak emas. Membaca uraian ini kita tentu tidak serta merta menggambarkan perahu itu perahu biasa - biasa saja. Tentu kondisi perahu disesuaikan atau sepadan dengan kelengkapan sang Raja yang menggunakan "man-pu" dengan berpayung emas. Persepadanan itu antara lain seperti hiasan atau simbol - simbol yang memperlihatkan ciri - ciri Kerjaaan tentunya walau pengertian "man-pu" pembungkus badan Raja belum ada penjelasan apakah jubah, selempang atau pakaian kebesaran lainnya.

Dari temuan peninggalan perahu kuno di Ujung Pelancu, ternyata tinggalan perahu - perahu itu mirip dengan temuan di situs Samirejo Palembang yang tidak menggunakan paku tetapi penggunakan pasak kayu dan ijuk, seperti yang dinyatakan dari sumber Portugis pada awal abad ke - 16.

Dikatakan dalam bukti tertua tersebut bahwa perahu - perahu yang dimiliki oleh orang - orang Jawa dan Melayu biasa disebut dengan "Jung" yang berkapasitas mencapai 250 - 500 ton. Dari bentuk - bentuk tinggalan sisa - sisa perahu yang ditemukan di Ujung Pelancu dan sekitarnya, tampaknya perahu - perahu itu merupakan Jung yang lebih kecil dibandingkan dengan Jung - jung sekarang atau pada masa abad XV - XVI.

Namun tidak tertutup kemungkinan Kerajaan Jambi dimasa Melayu atau Suwarnabhumi atau Dharmasraya telah memiliki perahu - perahu Jung ukuran kecil, sedang dan besar baik yang dibuat sendiri atau di buat dari luar daerah Jambi.

Hal ini logis untuk suatu Kerajaan Maritim yang menguasai jalur pelayaran di Selat Malaka. Memang belum ada suatu temuan arkeologi yang utuh terhadap bentuk perahu kuno di sepanjang DAS Batang Hari. Namun demikian perjalanan perahu dalam kehidupan penduduk Jambi masih berlangsung sampai sekarang, baik sebagai alat transportasi, berdagang, mencari ikan, penyeberangan dan perlombaan dengan bentuk perahunya yang panjang, yang dapat dinaiki oleh puluhan orang.

Lomba - lomba seperti itu dilaksanakan pada perayaan 17-an atau pada perayaa hari besar lainnya.
Perahu - perahu juga dibuat untuk meletakkan sesaji di saat acara ritual Bukak Lubuk Larangan seperti di desa Batu Kerbau kecamatan Pelepat atau di desa Rantau Pandan Muaro Bungo. Bahkan pada kehidupan suku anak dalam, perahu juga sebagai perlambang pengantar arwah. Pada saat musim tanam, ada perahu - perahu usang yang di gunakan untuk menebar benih persemaian. Kalau diatarik garis pelayaran di masa Kerajaan Singosari dengan Pamalayu- nya atau di masa Kerajaan Majapahit seperti di gambarkan pada pahatan relief Candi Borobudur, maka tidak mustahil pelabuhan laut atau pelabuhan pedalaman Jambi/ Melayu pernah disinggahi atau memiliki perahu - perahu bercadik atau tidak bercadik.

Kontak dagang atau keagamaan dengan India, Cina atau Arab tidak mustahil dilakukan dengan jalur pelayaran menggunakan perahu/ kapal dalam berbagai bentuk dan kelaziman pada masa itu baikdalam bentuk dan konfigurasi ciri khas etnis kedaerahannya maupun besar kecilnya muatan dan asesoris keseimbangan dalam pelayaran yang jauh dan panjang antara abad VII - IX.

Pelayaran perdagangan dan keagamaan antara Indonesia, Cina, Thailand, Vietnam dan lain - lainnya, dapat dibuktikan dari adanya temuan arkeologi berupa keramik Cina maupun gambaran dalam bentuk jung seperti adanya berita I-Tsing maupun Gunadarma.

Sumber : BAB VI KHASANAH BUDAYA KELAUTAN PROVINSI JAMBI

Disusun: Drs.H.Junaidi.T.Noor, MM

Posting ulang dari blog lama saya: pelayangwap.blogspot.com
Share:

Rumah adat Jambi


Jambi merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera. Kota Jambi terbentuk ketika Kerajaan Melayu Jambi berdiri sekitar abad XVII. Terletak di sekitar tepian Sungai Batanghari, Jambi dibentuk dari berbagai kebudayaan yang berasal dari berbagai etnik, strata sosial, ekonomi, dll yang dapat dilihat dari bangunan dan suasana tepi sungai.
Pada tahun 70an.

Gubernur Jambi pernah mengadakan sayembara "Sepucuk Jambi Sembilan Rumah" untuk mencari rumah adat yang menjadi jati diri daerah Jambi.

Dari hasil Sayembara tersebut, yang dipilih dan dijadikan sebagai rumah adat jambi adalah Rumah Panggung Kajang Leko.

Rumah Panggung Kajang Leko merupakan konsep arsitektur dari Marga Bathin. Hingga sekarang orang Bathin tetap mempertahankan adat istiadat yang ditinggalkan oleh pendahulu mereka, bahkan peninggalan Kajang Leko pun masih dapat dinikmati keindahannya dan masih dipergunakan hingga kini. Salah satu perkampungan Bathin yang masih utuh hingga sekarang adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang.

Rumah Panggung Kajang Leko memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 12 meter x 9 meter. Keunikannya terletak pada struktur konstruksi & seni ukiran yang menghiasi bangunan.

Konstruksi bubungan atap rumah dinamakan "gajah mabuk" diambil dari cerita nama si pembuat rumah yang mebuk cinta namun tidak disetujui. Bubungan tersebut dibuat melengkung ke atas menyerupai perahu dinamakan "jerambah" atau "lipat kajang" dengan atap bagian atas dinamakan kasau, terbuat dari anyaman ijuk yang dilipat dua untuk mencegah air masuk ke dalam rumah.

Pada langit-langit rumah terdapat pemisah/pembatas yang dinamai "tebar layar" yang berfungsi untuk menahan rembesan tepias air hujan. Ruang diantara layar tebar dan atap biasanya difungsikan untuk menyimpan peralatan. sedangkan di bagian tepi, dinding rumah terbuat dari kayu yang dihiasi dengan ukiran.
Pintu rumah kajang leko ada tiga macam yaitu: pintu tegak, pintu masidinding, dan pintu balik melintang.

Rumah Panggung Kajang Lako memiliki 30 tiang yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban.
Rumah Panggung Kajang Leko adalah salah satu bentuk pengejawantahan cita rasa seni, budaya, dan keyakinan masyarakat Jambi yang tersirat mulai dari bentuk bangunan, fungsi ruangan, seni ukiran, dll
Share:

Cerita rakyat, legenda bukit siguntang


Cerita Legenda Bukit siguntang
Berawal dari legenda Datuk Kerungkung Bebulu.

Datuk ini bernama lengkap Datuk Baju Merah Kerungkung Bebulu ( leher di tumbuhi rambut atau bulu).

Gelar baju merah karena setiap kali berperang bajunya selalu memerah oleh percikan darah lawan-lawannya.

Disebut kerungkung bebulu, karena ketika dilahirkan kerungkungnya ditumbuhi bulu.

► Awal kisah bermula dari Sang Raja Negeri Selado Sumai yang kehilangan pedang pusaka warisan leluhur bernama Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan. Entah di mana rimbanya dan tidak mengetahui siapa yang mencurinya, diperintahkanlah Datuk Kerungkung Bebulu yang sakti tiada tanding di kerajaan Salado Sumai untuk mencari pedang tersebut.

Perintah dijalankan, tanpa takut dan gentar. Seorang diri menjelajahi rimba dan kembah gunung. Di suatu goa batu yang kelam dan dingin, Datuk Kerungkung Bebulu merayap menyusup di kegelapan goa. Sampai di ujung goa di atas sebuah batu papak duduk sesosok orang tua yang komat kamit membaca rapalan.

Dari lubang di atas sang pertapa menyorot cahaya matahari bak lampu fokus dan sinar tersebut menerpa sebilah pedang pusaka kerajaan yang hilang dan kini sudah dipangkuan Datuk Panglimo Tahan Akik asal Ranah Pagaruyung.

Singkat cerita terjadilah perebutan yang dahsyat, saling tendang, saling hempas menghempas. Tujuh hari berturut-turut perkelahian berlangsung tanpa ada tanda-tanda kalah atau menang dari kedua belah pihak.

Setiap malam mendatang sampai terbit matahari mereka seolah sepakat digunakan beristirahat memulihkan kekuatan untuk melanjutkan pertarungan. Masa istirahat digunakan keduanya mencari dedaun dan apa saja yang dapat dimakannya setelah itu keduanya sama-sama beritirahat terlelap dalam kegelapan dinding goa.

Hari ketujuh medan lag beralih ke luar goa. Maka bertumbangan pohon terlibas baku hantam. Rata tanah tercukur babatan dan injakan kaki dua manusia yang berlaga mati-matian. Pada suatu kesempatan sekelebat mata Datuk Karungkung Bebulu berhasil menangkap kaki Datuk Panglimo Tahan Takik dan menghempaskannya.

Bedegam bunyinya, bergetar bumi bak gempa dan terlepaslah pedang Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan dari pegangan dan mental melayang ke udara.
Kesempatan yang berharga itu dimanfaatkan dan melayanglah Datuk Karungkung Bebulu menangkap pedang pusaka kerajaan Selado Sumai. Kemudian melesat meninggalkan medan laga.

Tak hayal Datuk Panglimo Tahan Takik melesat pula. Saling berkejar-kejaran menampilkan ilmu lari cpat dan kelihatan kelit berkelit disela semak dan pepohonan. Binatang rimba berserabutan ketakutan. Tujuh lurah tujuh pematang telah mereka lalui. Di suatu ceruk sempit mereka terhenti, karena dihadapannya ternganga mulut seekor ular raksasa siap menelan apapun.

Entah siapa yang memulai, didapat kesepakatan siapa yang sanggup membunuh ular itu, dialah yang berhak atas pedang Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan.

Kesempatan pertama dilakukan oleh Panglimo Tahan Takik. Dengan sebilah keris panjang ditikamnya sekuat tenaga tubuh ular raksasa itu. Berdencing memekakan telinga. Keris itu bengkok dan patah karena beradu dengan kulit ular yang keras itu. Sang ular tak bergeming dan tak cidera sedikitpun.

Tangan Panglimo Tahan Takik membengkak. Sendi-sendi pergelangan, siku dan bahunya terasa nyeri. Terangsang oleh gelak tawa Datuk Kerungkng Bebulu dengan hawa marah meledak-ledak Panglimo Tahan Takik menghunus keris pendek dari pinggangnya dan melesat kembali menghantam badan ular besar yang mengerikan itu. Berkali-kali terlihat percikan api disela keplan debu yang berterbangan. Akhirnya Panglimo Tahan Takik luruh bersimbah keringat. Tak jauh dihadapannya ular raksasa siap melahap sambil melilitkan lidah merah bercabangnya.

Dengan langkah tegap penuh keyakinan Datu Kerungkung Bebulu berjalan sampai dihadapan ular raksasa.
Mata merahnya mendelik seram menatap sang datuk yang berani mati berdiri beberapa depa di depan juluran lidahnya.

Sambil menghunus pedang pusaka kerajaan yang berhasil direbutnya dari Panglimo Tahan Takik, Datuk Kerungkung Bebulu menjulangkannya di atas kepala sambil melapal mantra-mantra sakti. Bersamaan dengan gelegar yang membahana dan kilat putih kebiruan keluar dari ujung senjata pusaka milik kerajaan Selado Sumai, melesat bayangan ke arah sang ular meliuk dan melilit tubuh raksasa yang tak sempat mengelak atau bergerak. Sebuah raungan menggeledek dan Datuk Karungkung Bebulu melihat ke arah ular yang berdebam bak gunung runtuh, tubuh ular raksasa menghantam bumi. Tubuhnya terkupas terpotong tiga. Bagian kepala menuju ke arah Panglimo Tahan Takik dan bagian ekornya seperti bernyawa meliuk ke arah Datuk Karungkung Bebulu.

Dengan sisa tenaga yang ada serta berselaput hawa marah dan kecewa yang amat sangat. Bagian kepala ular raksasa ditendang melambung ke udara dan lenyap dari pemandangan. Konon bagian kepala itu jatuh di Ngarai Si Anok dan mental kembali teronggok dua yang kemudian menjadi gunung Merapi dan Singgalang. Bagian ekornya yang melesat, ditangkap dan dibaling-balingkan kemudian dilemparkan jauh ke angkasa dan jatuh ke negeri Palembang mejelma menjadi Bukit Siguntang-guntang. Sedangkan bagian perutnya yang tertinggal di tempat itu dibiarkan dan akhirnya menjelma menjadi Bukit Siguntang. Kata-kata guntang dalam bahasa Sansekerta berarti terlindung atau pelampung pada pancing. Bisa juga kemungkinan guntang mengalami perubahan lafal dari kata buntang = bangkai, yakni bangkai/buntangnya ular raksasa. Berkat tekad dan kegigihan Datuk Karungkung Bebulu maka terlindunglah negeri Selado Sumai dari penjarahan Panglimo Tahan Takik dan amukan ular besar. Tak pelak lagi lingkungan Bukit Seguntang merupakan wilayah yang ideal bagi wisata paranormal karena menyimpan misteri magis.

Mitos tentang tokoh Datuk Kerungkung Bebulu ini merupakan salah satu cerita rakyat Jambi yang ada di daerah Kabupaten Tebo. Tokoh Datuk Karungkung Bebulu dipercaya masyarakat karena di daerah tersebut terdapat makam Datuk Kerungkung Bebulu.

Dari tokoh mitos inilah kemudian muncul legenda tentang Bukit Siguntang. Oleh Junaidi T. Noor, mitos ini kemudian dituliskan dalam sebuah buku Geografi Pariwisata Kabupaten Bungo Tebo (1999) yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Dati II Bungo Tebo (pada waktu itu Bungo Tebo masih dalam satu kabupaten. Pada tahun 2000, otonomi daerah menyebabkan kabupaten itu terpisah menjadi dua kabupaten, yaitu kabupaten Bungo dan kabupaten Tebo.

Sumber: #cerita rakyat, fb: #anak melayu jambi
Share:

Muara Tebo sebelum kemerdekaan



Zaman Kerajaan

1. Aditiyawarman

Tahun 1347 Adityawarman dinobatkan sebagai Raja Swarnabhumi, berkedudukan di Darmasraya, di hulu sungai Batanghari, dekat Sungai Langsat, Kenagarian Siguntur. Daerah ini saat itu tidak termasuk wilayah Sumatera Barat, tetapi wilayah merdeka yang makmur dengan kegiatan ekonomi cukup tinggi dan merupakan suatu pusat perdagangan (lada dan emas).

Namun kemudian Adityarwaman yang dinobatkan sebagai raja Dharmaseraya itu memindahkan pusat kerajaannya ke daerah Tanah Datar Pagaruyung, Batu-sangkar, ke dalam daerah Minangkabau. Dengan demikian muncullah Kerajaan Minangkabau dan Adityawarman sebagai raja pertamanya.
Tentang mengapa Adityawarman memindahkan pusat kekuasaanya ke Pagar-ruyung, banyak teori tentang itu. Mungkin terjadi coup d'tat di Istana Melayu/Darmasraya, mungkin di serang Majapahit, mungkin daerah baru itu lebih menguntungkan dipandang dari sudut ekonomi (bisa menyalurkan lada, baik kepesisir Timur maupun Barat) atau hanya ingin lebih safe terhadap ancaman Majapahit.

Yang pasti ialah Kerajaan Melayu/Darmaseraya sendiri tidak lenyap dengan perpindahan Adityawarman tersebut. Sebab kira-kira seperempat abad sesudah itu, baik Melayu maupun Minangkabau sama-sama mengirim utusan ke negeri Tiongkok.

Penelusuran Adityawarman ini menjadi penting artinya, karena dalam sejarah kerajaan Melayu disebutkan, bahwa turunan Adityawarman, yang bernama Putri Selaro Pinang Masak, diindentifikasi turun dari Pagarayung setalah Adityawarman mangkat. Puteri Selaro Pinang Masak inilah yang nanyinyaq setelah menikah dengan Datuk Paduko Berhalo di Ujung Jabung, dianggap sebagai peletak dasar Melayu Kuno II (abad XII-XIV), sekaligus merupakan masa awal bertapaknya Kerajaan Melayu (Islam) di Jambi.

2. Puteri Selaro Pinang Masak.

Dari silsilah Penyatuan Raja-Raja Minangkabau, Adityawarman yang lahir tahun 1294, menjadi raja bermula di Darmasraya dan berakhir di Pagaruyung (1347-1375).

Selanjutnya digantikan oleh anaknya Ananggawarman (1375 - 1417). Sedang Adityawarman mangkat tahun 1376.

Sejak mangkatnya Adityawarman, yang dimakamkan di Kubur Raja Lima Kum di Batusangkar, Sumatera Barat,
kesinambungan Kerajaan Melayu Jambi, terutama dengan Swarnabhumi tidak terdengar lagi.

Sejarah Kerajaan Melayu Jambi seakan-akan terhenti dalam kurun waktu, sejak mangkatnya Adityawar-man sampai munculnya Puteri Selaro Pinang Masak di Ujung Jabung tahun 1450.

Puteri Selaro Pinang Masak diperkirakan adalah anak cucu Ananggawarman (turunan raja-raja Pagaruyung) yang kemudian dirajakan oleh masyarakat Jambi dengan tempat persemayamannya di Ujung Jabung.

Selain itu Puteri Selaro Pinang Masak juga menerima penyerahan kekuasaan dari Tun Talanai yang berkedudukan di Dendang, Muara Sabak.
Perajaan Puteri Selaro Pinang Masak sekitar tahun 1450. M.

Tak lama kemudian Puteri Selaro Pinang Masak kawin dengan seorang bangsawan Turki yang terdampar di pulau Berhala, bernama Akhmad Barus II, yang kemudian mendapat gelar Datuk Paduku Berhalo.

Dari perkawinan ini lahir empat orang anaknya, yakni Orang Kayo Pingai, Orang Kayo Kedataran, Orang Kayo Hitam, dan seorang perempuan bernama Orang Kayo Gemuk.
Tahun 1500 orang Kayo Hitam menjadi raja Melayu Jambi, Masa Rang Kayo Hitam inilah ia meng-Islam-kan Jambi

Zaman Kesultanan

Bahwa pada masa pemerintahan Adityawarman di Pagaruyung, agama Islam telah masuk ke Minangkabau diperkirakan demikian juga di Jambi.

Agama Islam makin berkembang. Tidak saja di kalangan masyarakat tapi juga memasuki lingkungan kerajaan. Ini terbukti pada awal abad ke 17 nama-nama pemerintahan yang sebelumnya disebut Kerajaan, berubah menjadi Kesultanan.
Sultan pertama dari Kesultanan Jambi adalah Pangeran Kedah, gelar Sultan Keramat atau Sultan Abdul Kahar (1615-1643). Sedang Sultan terakhir, yang diakui rakyat Jambi, adalah Pangeran Ratu Ningrat, gelar Sultan Thaha Syaifuddin bin Sultan Muhammad Fachruddin (1885-1904).

Struktur Pemerintahan

Struktur Pemerintahan maupun Kesultanan Jambi erat kaitannya dengan ke-tentuan Adat yang mengamanatkan :
Alam nan Berajo,
Pemerintahan Bermenteri,
Rantau nan Bajenang,
Negeri/Marga nan Bebatin (untuk daerah Tebo disebut Temenggung),
Kampung nan Betuo,
Luak/Dusun nan Berpenghulu,
Rumah nan Betengganai.

Wilayah Kesultanan Jambi

Wilayah Kesultanan Jambi, setidaknya sampai tahun 1906, saat wilayah Kesultanan Jambi dijadikan Keresidenan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, tidak terdapat bukti-bukti tertulis mengenai wilayah Kesultanan Jambi tersebut.

Sumber yang ada tentang wilayah Kesultanan Jambi berasal dari beberapa Tambo. Di antaranya Tambo perjalanan Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Ketemengungan, dua tokoh penting dalam Kerajaan Pagaruyung di bawah pemerintahan Adityawarman (1347-1375). Dan dari Bandaro Lubuk Sati DSM, dari LKKM Sumatera Barat berdasarkan Adat Monografi Sumatera Tengah tahun 1950, serta dari Undang-undang Piagam Negeri Jambi, tulisan Umar Ngebi Sutho Dilago.

Wilayah Muara Tebo.

Untuk mengetahui wilayah Muara Tebo tidak terdapat bukti-bukti tertulis maupun tambo yang dapat dipahami sebagai petunjuk tentang kawasan wilayah Muara Tebo pada masa Kerajaan maupun Kesultanan Jambi.

Tapi kalau ditelaah kesepakatan terbentuknya 12 Suku Bangsa dalam wilayah Kesultanan Jambi, di mana 4 di antara Suku Bangsa tersebut, yakni Suku Bangsa Petajen, Suku Bangsa Muara Sebo, Suku Bngsa VII Koto, dan Suku Bangsa IX Koto, bermukim di DAS Batanghari.
mulai dari Teluk Rendah Hilir sampai ke Pucuk Jambi di hulunya.

Hal yang sama di masa Pemerintahan Kolonial Belanda, wilayah bermukimnya 4 Suku Bangsa ini ditetapkan sebagai wilayah Afdeeling MuaraTebo.

Sosial Budaya.

Sosial Budaya
mengandung pengertian yang merujuk kepada dua segi kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan.

Dengan pengertian masyarakat mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam hubungan itu, dalam masa Kesultanan Melayu Jambi, bahkan sampai saat ini, nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat itu berperan sebagai aturan. Bahkan dapat dijadikan acuan bagi anggota masyarakat dalam rangka berbuat atau bersikap dan bertingkah laku.

Dalam hubungan yang demikian, masyarakat Jambi sejak dulu, setidaknya sejak masa Kerajaan Swarnabhumi, tidak mengenal perbedaan kelas dan golongan, semua manusia adalah sama hak dan kewajibannya. Tidak terdapat stratifikasi sosial dalam masyarakat Jambi, termasuk masyarakat Tebo sebagai bagian dari masyarakat Jambi.

Kemudian dengan masuknya agama Islam, yang juga tidak membeda-bedakan manusia atas kelas-kelas dan golongan, maka semakin kentallah nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyrakat saat itu. Dengan kondisi yang demikian, maka sosial budaya masa itu dapat dikatakan sebagai kondisi masyarakat yang mempunyai nilai-nilai keagamaan yang tinggi. Yang dalam pengejawantahannya, kehidupan bersama manusia, yang mulanya diwarnai oleh norma-norma tradisi maupun adat, langsung dipaku dengan kaedah-kaedah agama, seperti terungkap dalam seluko adat, yakni Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah.

Sebagai contoh dari sosial budaya masa lalu itu, yang tetap dipertahankan sampai saat ini adalah dalam tata cara perkawinan menurut adat. Yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan ketentuan yang masih berlaku saat ini, yakni diletakkan "di atas tungku bercabang tiga", yaitu :
1. Memenuhi ketentuan adat.
2. Memenuhi ketentuan syarak.
3. Memenuhi ketentuan undang-undang perkawinan.
Contoh lain dapat juga ditemukan dalam bidang pertanian dengan apa yang disebut pelarin atau beselang. Semua kegiatan itu melibatkan masyarakat sekitar dengan semangat gotong royong, yang telah mendarah mendaging sejak berabad-abad.

Zaman Penjajahan

1. Zaman Penjajahan Belanda.

Belanda datang ke Jambi pada tahun 1615, yakni pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kadar. Upaya Belanda untuk menguasai perdagangan di Jambi, terutama lada, yang sebelumnya dikuasai pedagang-pedagang Cina, baru berhasil setelah Belanda dengan licik dapat mengangkat Pangeran Cakra Negara menjadi raja dengan gelar Sultan Kiai Gede (1696-1725).
Pengangkatan Pangeran Depati menjadi Sultan Jambi mendapat tantangan dari saudaranya yang lain, yakni Raden Jaelat dan Pangeran Singapati. Akibatnya terjadi perpecahan dalam Kesultan Jambi.

Kesultanan Jambi terpecah menjadi 2 Kesultanan, masing-masing :

1. Kesultanan Jambi Ulu dengan Sultannya Raden Jaelat bergelar Sri Maharaja Batu sedang adiknya diangkat menjadi Pangeran Ratu atau Wakil Raja, berkedudukan di Mangunjayo (Muara Tebo).

2. Kesultanan Jambi Ilir yang dipimpin oleh Pangeran Cakra Negara (Kiai Gede) yang didukung oleh Pemerintah Hindia Belanda dan berkedudukan di Tanah Pilih.
Masa pemerintahan Kesultanan Jambi Ulu berlangsung sekitar 30 tahun. Kemudian bersatu kembali dengan Kesultanan Jambi Ilir di bawah kekuasaan Sultan Suto Ingologo (1730-1770).

Pada tahun 1885 Sultan Thaha Syaifuddin dinobatkan sebagai Sultan Jambi yang ke 13 dengan pusat pemerintahannya di Tanah Pilih. Di masa pemerintahannya semua perjanjian yang dibuat oleh Sultan-sultan sebelumnya dengan Belanda dibatalkan. Dan menyatakan daerah Jambi sebagai daerah yang merdeka. Hal itu tentu saja tidak disenangi oleh Belanda. Belanda akhirnya mengultimatum Sultan Thaha untuk membuat perjanjian baru dalam jangka waktu 2 kali 24 jam. Tetapi Sultan Thaha menolaknya. Peperangan tidak lagi dapat dihindarkan. Tanah Pilih diserang oleh Belanda. Sultan Thaha bersama pengikut-pengikutnya yang heroik mengadakan perlawanan dengan gigihnya. Dan setelah Tanah Pilih diduduki Belanda, Sultan Thaha mengadakan perang gerilya secara berpindah-pindah, sampai akhirnya Sultan Thaha menyusun kekuatannya di Tanah Garo Muara Tebo.

Dalam suatu peperangan yang sengit Sultan Thaha gugur di Tanah Garo (1904) dan dimakamkan di Muara Tebo. Sultan Thaha dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden RI Nomor 079/TK/1997 tanggal 24 Oktober 1977.
Dengan gugurnya Sultan Thaha, perlawanan rakyat Jambi terhadap pemerintahan Kolonial Belanda makin melemah, walau masih ada perlawanan di sana sini secara seporadis. Akhirnya pada tahun 1906 Kesultanan Jambi ditetapkan menjadi sebuah Keresidenan di bawah Pemerintah Hindia Belanda.

Wilayah Kesultanan Jambi Ulu, yang sebelumnya dipimpin oleh Sultan Sri Maha-raja Batu oleh pemerintah Kolonial Belanda dijadikan sebuah wilayah yang disebut Adeeling. Dan mulai saat itu pelaksanaan pemerintahan ditangani oleh seorang Controleur berkebangsaan Belanda. Dibawahnya bertrurut-turut :
1. Demang
2. Asisten Demang
3. Pasirah
4. Kepala Desa/Kepala Dusun/Kepala Kampung.

Masa Pemerintahan Jepang

Belanda terjun ke dalam kancah Perang Dunia II, dengan mengumumkan perang kepada Jepang pada tanggal 7 Desember 1941.
Tetapi dalam beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati.

Muara Tebo diduduki Jepang tanggal 2 Maret 1942. Kemudian tentara Jepang bergerak ke Pulau Musang dipimpin Kolonel Namora dan sebagian lagi bergerak menuju Jambi dipimpin oleh Kapten Orita. Jambi dapat diduduki tanggal 4 Maret 1942.

Jepang benar-benar membawa malapetaka. Jepang memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat yang melawan dipukul, bahkan ada yang dibunuh. Dengan alasan untuk melawan kepentingan musuh, Jepang mengambil padi rakyat.
Rakyat dipaksa menanam ubi kayu pengganti beras.

Rakyat dipaksa untuk berbagai kegiatan, sehingga rakyat tidak mempunyai kesempatan lain untuk kepentingan diri sendiri. Akibatnya rakyat terpuruk dalam kemiskinan dan kelaparan.

Sistem Pemerintahannya tidak banyak berobah dari system di masa pemerintahan Kolonial Belanda, hanya istilahnya saja yang berubah. Selain itu Jepang merekrut pemuda-pemuda terpelajar untuk dijadikan Gyu Gun, Kay Gun, Hei Ho dan aparat pembantu militer lainnya.

Di samping itu Jepang membentuk Kei Bodan (semacam pasukan pemadam kebakaran) dan Sei Ne Dan, barisan pemuda yang bertugas membantu rakyat dan pemerintah, jika terjadi peperangan atau kebakaran. Mereka ini mendapat latihan kemiliteran.

Dalam perkembangan selanjutnya Kei Bodan dan Sei Ne Dan inilah yang terbanyak menjadi BPK (Badan Penjaga Keamanan). Sebuah Badan Keamanan yang perannya amat penting di awal-awal kemerdekaan.



Sumber: google, blogger, budakjambiasaltebo
Share:

Sejarah kabupaten Tebo


Kabupaten Tebo tidak terlepas dari sejarah Propinsi Jambi, karena Kabupaten Tebo termasuk wilayah administratif Propinsi Jambi.

Namun demikian karena sejarah adalah gambaran masa lalu, maka jangkauannya tidak hanya terbatas pada wilayah administratif, tapi bisa juga melewati batas-batas tertentu. Karena garis administratif baru itu tidak berlaku sama pada sejarah kebudayaan, sebab seluruh kebudayaan masyarakat Kabupaten Tebo adalah bagian dari kebudayaan Melayu, mulai dari masa pra sejarah hingga masa Hindu Budha.

Masa Prasejarah


Tidak banyak yang dapat diketahui tentang masa pra sejarah di Kabupaten Tebo. Tapi setidaknya dengan adanya pendapat yang menyatakan, bahwa 10.000 - 5.000 tahun SM, Ras Deutro Maleires (Melayu Muda) yang berasal dari pedalaman Tiongkok Selatan, telah menyebar ke Nusantara, di antaranya ke Sumatera.

Ras ini kemudian bermukim di daerah-daerah pantai dan daratan rendah. Dan bila kemudian dihubungkan dengan hasil penelitian Prof. Sartono (1978), yang menyatakan adanya Teluk Tebo dan Teluk Tembesi yang menjorok ke arah pedalaman mengapit Bukit Dua Belas. Sedang di Teluk Tebo bermuara Sungai Batanghari dan Batang Tabir beserta anak-anak sungainya, tentunya dapat dipahami, bahwa dalam kawasan Kabupaten Tebo sekarang ini, dulunya telah bermukim Ras Deutro Maleires (Melayu Muda), sebagai awal masa pra sejarah.

Masa Hindu Budha


Dalam sejarah Dinasti Sung (960-1280) dinyatakan bahwa ada sebuah kerajaan bernama Ho-lo-tan yang telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Cina dan berturut-turut telah mengirim utusannya ke Cina pada tahun-tahun 420, 433, 434, 436, 437, dan 452. Kerajaan Ho-lo-tan tersebut terletak di She-po atau Tehu-po. Sedangkan She-po atau Tehu-po tersebut menurut Prof. Sartono (1978) yang juga diyakini oleh sejarawan Drs. Fachruddin Saudagar, adalah Muara Tebo sekarang ini.

Sementara itu menurut sejarawan H. Djunaidi T Noor, sekitar abad III-IV terdapat dua "kerajaan" atau "Kekuasaan" masing-masing Ho-lo-tan di She-po atau Tehu-po dan Sanfo-Shih di Muara Tembesi. Kemudian kerajaan Ho-lo-tan bergeser ke arah Timur dan berdirilah Ko-ying. Sementara itu Prof. Slamet Mulyono menyatakan, bahwa di muara Sungai Tebesi ada sebuah Kerajaan bernama Kuntala. Yang juga telah mengirin utusan ke negeri Cina pada tahun-tahun 441, 455,502, 519, 560, dan 563. Namun bagaimana kelanjutan kerajaan-kerajaan ini tidak begitu jelas. Hanya saja baik Prof. Slamet Mulyono, maupun H. Djunaidi T Noor, sependapat bahwa kemudian berdirilah kerajaan Melayu (Mo-le-yeu). Kerajaan Melayu ini menurut Prof. Slamet Mulyono berdampingan dengan kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi. Sedangkan H. Djunaidi T Noor mematok tahun 644 sebagai tahun lahirnya kerajaan Melayu di DAS Batang Hari.

Namun tahun 692, menurut catatan pendeta Cina I'Sing, ketika ia pulang dari Nalanda (Idia) kenegerinya menyatakan, bahwa kerajaan Melayu sudah menjadi daerah taklukan kerajaan Sriwijaya. Namun demikian Kerajaan Melayu tersebut masih tetap ada, tetapi tidak dibenarkan mengadakan hubungan diplomatik dengan luar negeri, terutama Cina. Selanjutnya kerajaan Melayu tersebut telah berubah dan berganti nama Swarnabhumi, yang dalam berita-berita Cina Swarnabhumi ini disebut San Fo Si, dengan ibukotanya Chanpi (Jambi).

Dari laporan-laporan pengelana Cina yang bernama Chou Ku Fei dan Cu Pan Ci, hidup dimasa dinasti Ming, menyatakan bahwa Swarnabhumi merupakan salah satu negara terkaya, yang memiliki pergudangan untuk menyimpan barang-barang berharga, setara dengan Tashi (Arab) dan Sha-po (Jawa).

Walau kerajaan Melayu yang telah berganti nama Swarnabhumi itu telah bangkit dan semakin maju, tapi kecemasannya akan diserang atau dicaplok oleh kerajaan-kerajaan lain, seperti Sriwijaya dan Singosari dari Jawa Timur, tetap merupakan ancaman. Dan kecemasan itu menjadi kenyataan, pada tahun 1275 Swarnabhumi diserang oleh kerajaan Singosari di masa pemerintahan Abhiseka Sri Kertanegara.

Perintah penyerangan itu lebih dikenal dengan sebutan Pamalayu, yang artinya perang melawan Melayu. Di bawah pimpinan Panglima Perang yang bernama Mahisa Anabrang. Akan tetapi peperangan itu dapat ditiadakan, bahkan dapat diciptakan perdamaian. Bahkan Kerajaan Swarnabhumi tetap diakui sebagai kerajaan dengan rajanya Tribhuwana Mauliwarmadewa.

Setelah hampir 20 tahun tentara Singosari berada di kerajaan Swarnabhumi, barulah mereka kembali ke Singosari. Dan bersamaam dengan kepulangan tentara Singosari dibawah pimpinan Mahisa Anabrang, diboyong pula dua puteri raja Tribhuwana Mauliwarmadewa, yakni Dara Petak dan Dara Jingga. Kedua puteri Melayu (Swarnabhumi) ini diserahkan kepada raja Majapahit, yakni Kertarajasa Jayawardhana,yang sebelumnya telah menaklukkan Kerajaan Singosari.
Dari Petak menjadi isteri Raden Wijaya, sedangkan Dara Jingga menjadi isteri Mahisa Anabrang.
Dari perkawinan Dara Jingga dengan Mahisa Anabrang lahirlah seorang putra yang diberi nama Adityawarman. Adityawarman dibesarkan dan mendapat pendidikan di lingkungan Kerajaan Majapahit.

Setelah dewasa Adityawarman mendapat kepercayaan besar di Keraton Majapahit. Selain ikut sebagai panglima perang bersama Gajah Mada dalam memadamkan beberapa pemberontakan, di antaranya pemberontakan Sadeng, Adityawarma juga diangkat sebagai Wredha Tama, atau disebut juga Praudata Menteri, yang kira-kira sama artinya dengan Menteri Senior, dengan gelar Arya Dewaraja Pu Aditya. Selain itu Adityarwarman juga diutus ke negeri Cina pada tahun 1325 dan 1332 dalam rangka hubungan diplomatik antara Majapahit dan Cina. Dengan demikian Adityawarman menempati posisi penting dan terhormat dalam Kerajaan Majapahit.

Walau Adityawarman mendapat posisi penting dan terhormat di Kerajaan Majapahit, namun ia tidak mau menetap di Majapahit. Pada tahun 1343 ia kembali ke Darmasraya, ketempat kakeknya. Yang kemudian dinobatkan sebagai Raja Darmasraya pada tahun 1347 dengan gelar Udayatyawarman Pratapkramarajendra Mauliwarmadewa.

Dengan gelar yang demikian Adityawarman memaklumkan dirinya sebagai Maharaja dan merupakan tonggak sejarah baru dalam Kerajaan dan Kesultanan Melayu Jambi, serta meletakkan Kabupaten Tebo pada posisi strategis dalam perkembangan sejarah Kerajaan maupun Kesultanan Jambi berikutnya.

Sumber: budakjambiasaltebo
Share:

Proses masuk nya Islam ke Sumatera



Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.

Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka, sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.

Sementara itu, buah pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual pada pedagang asing.
Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia dan India sudah sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke- 7M (abad 1 H). Menurut J.C Van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera,
yaitu di Barus, daerah penghasil kapur Barus terkenal.

Dari berita Cina, diketahui bahwa di masa Dinasti Tang (abad ke 9-10). Orang-orang Ta-shin sudah ada dikanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-shin adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia , yang ketika itu jelas sudah mejadi muslim.

Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat Internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebakan oleh kerajaan Islam. Akan tetapi belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu yang beragama Islam.
Baru pada zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang muslim itu. Sumber sejarahya Shahih yang memberikan kesaksian sejarah yang dipertanggung jawabkan tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “komonitas Islam“ berubah menjadi kekuasaan. Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan itu.

Dengan demikian dakwah Islamiyah berpeluang untuk bergerak dan berkembang dengan cepat di kawasan ini. Hal ini berdasarkan catatan tua Cina yang menyebutkan adanya sebuah kerajaan di utara Sumatera namanya Ta Shi telah membuat hubungan diplomatic dengan kerajaan Cina.
Ta Shi menurut istilah Cina adalah istilah yang diberikan kepada orang-orang Islam.

Dan letaknya kerajaan Ta Shi itu lima hari berlayar dari Chop’o (bagian yang lebih lebar dari malaka) di seberang selat Malaka.
Ini menunjukkan Ta Shi dalam catatan tua Cina itu ialah Ta Shi Sumatera Utara, bukan Ta Shi Arab. Karena, Ta Shi Arab tidak mungkin di capai dalam waktu lima hari.

Islam semakin berkembang di Sumatera Utara setelah semakin ramai pedagang – pedagang muslim yang datang ke Nusantara, karena Laut Merah telah menjadi Laut Islam sejak armada rome dihancurkan oleh armada muslim di Laut Iskandariyah. Di samping itu , terdapat satu faktor besar yang menyebabkan para pedagang Islam Arab memilih Sumatera Utara pada akhir abad ke- 7 M.

Yaitu karena terhalangnya pelayaran mereka melalui Selat Malaka karena disekat oleh tentara laut/Sriwijaya kerajaan Budha sebagai pembalasan atas serangan tentara Islam atas kerajaan Hindu di Sind.
Maka terpaksalah mereka melalui Sumatera utara dengan pesisir barat Sumatera kemudian masuk selat Sunda melalui Singapura menuju Kantun, Cina.

Dari data-data ilmiah dari berbagai sumber tentang masuknya Islam ke Indonesia dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase.

Fase pertama :
Singgahnya pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, termasuk di Sumatera, sumbernya adalah berita luar negeri terutama Cina.

Fase kedua :
Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia sumbernya di samping berita-berita asing, juga makam-makam Islam.

Fase ketiga :
Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam
Kerajaan-Kerajaan Islam yang Mempengaruhi Berkembangya Islam di Sumatera.

👉 Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan Perlak berdiri pada abad ke-3 H (9 M).

Disebutkan pada tahun 173 H, sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa angkatan dakwah di bawah pimpinan nakhoda khalifah. Kerajaan Perlak didirikan oleh Sayid Abdul Aziz (Raja Pertama Kerajaan Perlak) dengan gelar Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah.
Pada akhir abad ke 12, di pantai timur Sumatera terdapat negara Islam bernama Perlak.

Nama itu kemudian dijadikan Peureulak, didirikan oleh para pedagang asingg dari Mesir, Maroko, Persia, Gujarat, yang menetap di wilayah itu sejak awal abad ke 12. Pendirinya adalah orang Arab suku Quraisy. Pedagang Arab itu menikah dengan putri pribumi, keturunan raja Perlak. Dari perkawinan tersebut ia mendapat seorang anak bernama Sayid Abdul Aziz.

Sayid Abdul Aziz adalah sultan pertama negeri Perlak.
Setelah dinobatkan menjadi sultan negeri Perlak, bernama Alaudin Syah. Demikian ia dikenal sebagai sultan Alaidin Syah dari negeri Perlak.

Angkatan dakwah yang dipimpin nakhoda khalifah berjumlah 100 orang, yang terdiri dari orang Arab, Persia, dan India. Mereka ini menyiarkan Islam pada penduduk setempat dan keluarga istana. Salah seorang dari mereka yaitu Sayid Ali dari suku Quraisy kawin dengan seorang putri yakni Makhdum Tansyuri, salah seorang adik dari Maurah Perlak yang bernama Syahir Nuwi.

Dari perkawinan ini lahirlah Sayid Abdul Aziz, putra campuran Arab Perlak pada tahun 225 H.

👉.Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh dan terletak di pesisir Timur Laut Aceh.
Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum bisa dipastikan dengan tepat dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah.

Namun, menurut Uka Tjandrasasmita (Ed) dalam buku Badri Yatim, menyatakan bahwa kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 dan seterusnya.

Berdasarkan berita dari Ibnu Batutah, dikatakan bahwa pada tahun 1267 telah berdiri kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini dibuktikan dengan adanya batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh (1297 M), Raja pertama Samudra Pasai. Malik Al-Saleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai, merupakan pendiri kerajaan tersebut.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan nama Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu, ia masuk Islam setelah mendapat mendapatkan seruan dakwah dari Syaikh Ismail beserta rombongan yang datang dari Mekkah.

👉. Kerajaan Aceh

Kurang diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri, Anas Machmud berpendapat, sebagaimana yang dikutip dalam buku Badri Yatim, bahwa kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M.

Di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M), dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.

Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naik tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai.

👉. Kerajaan Minangkabau

Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau yang merupakan salah satu Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya.

Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347, dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.

Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan pasti, namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut.

Bukti-Bukti Masuknya Islam di Sumatera :


1. Makam Sultan Malik Al-Saleh

Makam Sultan Malik Al-Saleh yang ber-angka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad XIII.

Mengingat Malik Al-Salaeh adalah seorang sultan, maka dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik Al-Saleh mendirikan Kesultanan Samudera Pasai.

2. Cerita Marco Polo

Pada tahun 1092, Marco Polo seorang musafir dari Venesia (Italia) singgah di Perlak dan beberap tempat di Aceh bagian Utara. Marco Polo sedang melakukan perjalanan dari Venesia ke negeri Cina. Ia menceritakan bahwa pada abad XI, Islam telah berkembang di Sumatera bagian Utara. Ia juga menceriterakan bahwa Islam telah berkembang sangat pesat di Jawa.

3. Cerita Ibn Battuta

Pada tahun 1345, Ibn Battuta mengunjungi Samudera Pasai. Ia menceriterakan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya.

Di samping itu, ia menceriterakan bahwa Samudera Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Di sana, Ibn Battuta bertemu dengan para pedagang dari India, Cina, dan para pedagang dari Jawa.

Sumber: blogger, google
Share:

Asal mula masuk nya Islam ke Sumatera


Islam masuk ke Sumatra pada abad ke-7 Masehi, yang pada waktu itu di Sumatra telah berdiri kerajaan Budha di Sriwijaya (683-1030 M) yang menjadikan Islam masuk ke daerah itu sedikit mengalami kesulitan, dan pada waktu itu kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari India, maka kesempatan itu digunakan untuk menyebarkan Islam bagi daerah-daerah.

Hal ini memberikan kesimpulan bahwa pada abad 1—4 H merupakan fase pertama proses kedatangan Islam di Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya, dengan kehadiran para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan di Sumatera. Dan hal ini dapat diketahui berdasarkan sumber-sumber asing.

Berdasarkan informasi yang berasal dari literature Arab, dapat diketahui bahwa kapal-kapal dagang Arab sudah mulai berlayar ke wilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad ke– 7 M. Sehingga, kita dapat berasumsi, mungkin dalam kurun waktu abad 1—4 Masehi terdapat hubungan pernikahan anatara para pedagang atau masyarakat muslim asing dengan penduduk setempat sehingga menjadikan mereka masuk Islam baik sebagai istri ataupun keluarganya.

Sedangkan bukti-bukti tertulis adanya masyarakat Islam di Indonesia khususnya Sumatera, baru ditemukan setelah abad ke– 10 M. yaitu dengan ditemukannya makam seorang wanita bernama Tuhar Amisuri di Barus, dan makam Malik as Shaleh yang ditemukan di Meunahasah Beringin kabupaten Aceh Utara pada abad ke– 13 M.

Islam di Sumatra khususnya aceh dipercaya sebagai cikal-bakal penyebaran Islam di Nusantara.
Penyebaran Islam dilakukan oleh para saudagar Arab yang hilir mudik berdagang dari Mesir, Persia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur yang dipastikan terletak di ujung barat pulau Sumatra.

Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedagang profesional Islam yang memang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah persinggahan dalam perjalanan menuju Cina.

Hubungan yang sudah terbina sejak lama, yang melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau Sumatra, telah memudahkan penyiaran Islam.

Islam telah berkembang di Aceh sejak abad VII. Keberadaannya dibawa oleh para saudagar Islam Arab dan bukan merupakan misi khusus penyebaran agama. Selain dari perdagangan masuknya islam ke daerah Sumatra juga dipengaruhi oleh kerajaan dakwah-dakwah dari wali-wali atau ulama yang ada pada saat itu.

Tokoh-tokoh yang mempengaruhi masuknya islam di pulau Sumatra:

Selain dari perdagangan , pernikahan dan kerajaan masuknya islam di pulau Sumatra juga di pengaruhi oleh tokoh-tokoh, salah satunya ialah Syekh baharudin (Sumatra barat).

Syeikh baharudin
Syeikh Burhanuddin Ulakan dikenal sebagai mursyid tarekat Syathariyah, beliau adalah penggagas munculnya surau di Minangkabau.

Ulama ini dikenal sebagai salah seorang penyebar tarekat Syatariyyah dan Islam di wilayah Sumatera Barat. Syeikh Burhanuddin ketika lahir, memiliki nama asli Pono. Namun, informasi mengenai tempat lahirnya tidak banyak informasi yang didapat.
KH Sirajuddin Abbas mengatakan Syeikh Burhanuddin berasal dari suku Guci.
Hal ini didasarkan pada Cukuik yang berasal dari suku Guci. Ayahnya bernama Pampak dari suku Koto. Masa kecilnya bisa dikatakan belum mengenal agama, konon ayahnya beragama Buddha.

Kehidupan Syeikh Burhanuddin bisa dibilang penuh liku, sejak kecil beliau hidup berpindah-pindah. Ia mengikuti ayahnya ke Sintuk, di kota ini ia mendapat julukan datuk Sati. Keluarga Pampak diberi sebuah lahan oleh ninik mamak setempat, kemudian Pono pergi merantau ke Tapakis untuk berguru dengan Syeikh Yahyuddin yang mendapat gelar Syeikh Madinah.

Setelah selesai ia kembali lagi ke kampungnya. Bagaimanapun Pono tetap melaksanakan tugas dakwah yang akibatnya tentangan semakin menjadi-jadi, maka akhirnya pihak yang tidak menyukai kegiatan itu mengusir dan mengancam untuk membunuh Pono.

Pada saat kritis, Beliau pergi menemui gurunya Syeikh Yahyuddin. Atas saran gurunya, Pono kemudian pergi ke Aceh untuk berlajar pada Syeikh Abdul Rauf Al-Singkil. Bersama empat orang rekannya, yaitu Datuk Maruhun dari Padang Ganting Batusangkar, Terapang (Kubang Tiga Baleh Solok), Muhammad Nasir (Koto Tengah Padang) serta Buyung Mudo (Tarusan) berangkat ke Aceh Di bumi Serambi Mekkah ini, Pono berjumpa dengan Syeikh Abdurrauf al Fansuri.

Ada versi yang mengatakan mulanya ia tidak berhasrat untuk mencari ilmu pada syeikh Hamzan Fansuri. Mata batinnya melihat Pono berbakat untuk menjadi ulama besar, maka selama 13 tahun Pono digembleng oleh Syeikh Abdurrauf al Fansuri.

Pono semasa nyantri dikenal sebagai seorang yang sangat tunduk pada guru, ada satu cacatan mengenai hal ini. Pada suatu hari gurunya mengunyah sirih. Tiba-tiba tempat kapur sirihnya jatuh kedalam kakus. Padahal kakus tersebut dalam dan telah dipakai berpuluh-puluh tahun. Gurunya kemudian berkata, “Siapa diantara kalian sebanyak ini yang sudi membersihkan kakus itu sebersih-bersihnya. dan siapa pula yang mau mengambil tempat sirih saya yang terjatuh di dalamnya?”. Murid-murid banyak yang merasa enggan, tetapi lain halnya dengan Pono Ia justru berjam-jam membersihkan kakus tersebut dan mendapatkan tempat sirih gurunya. Melihat kerja keras sang muridnya, gurunya berdoa panjang sekali. Setelah selesai gurunya berkata,”Tanganmu akan dicium oleh raja-raja, penghulu-penghulu dan orang besar se-antero negeri.

Muridmu tidak akan terputus-putus sampai akhir zaman, dan ilmu kamu yang akan memberkati dunia, maka aku namai kamu Saidi Syeikh Burhanuddin.”

Keadaan Masyarakat Sumatera Sebelum Masuknya Agama Islam

Sumatera Utara memiiki letak geografis yang strategis, hal ini membuat Sumatera Utara menjadi pelabuhan yang ramai, menjadi tempat persinggahan saudagar-saudagar muslim Arab dan menjadi salah satu pusat perniagaan pada masa dahulu. Sebelum masuk agama Islam ke Sumatera Utara, masyarakat setempat telah menganut agama Hindu.

Hal ini dibuktikan dengan kabar yang menyebutkan bahwasanya Sultan Malik As-Shaleh, Sultan Samudera Pasai pertama, menganut agama Hindu sebelum akhirnya diIslamkan oleh Syekh Ismael. Sama hal nya dengan Sumatera Utara, Sumatera Selatan juga memiliki letak geografis yang strategis sehingga pelabuhan di Sumatera Selatan merupakan pelabuhan yang ramai dan menjadi salah satu pusat perniagaan pada masa dahulu. Oleh karena itu, otomatis banyak saudagar-saudagar muslim yang singgah ke pelabuhan ini.

Sebelum masuknya Islam, Sumatera Selatan telah berdiri kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha. Kerajaan ini memiliki kekuatan maritim yang luar biasa. Karena kerajaannya bercorak Buddha, maka secara tidak langsung sebagian besar masyarakatnya menganut Agama Buddha. Letak yang strategis menyebabkan interaksi dengan budaya asing, yang mau tidak mau harus dihadapi.

Hal ini membuat secara tidak langsung banyak budaya asing yang masuk ke Sriwijaya dan mempengaruhi kehidupan penduduknya dan sistem pemerintahannya termasuk masuknya Islam.

Bangsa Indonesia yang sejak zaman nenek moyang terkenal akan sikap tidak menutup diri, dan sangat menghormati perbedaan keyakinan beragama, menimbulkan kemungkinan besar ajaran agama yang berbeda dapat hidup secara damai. Hal-hal ini yang membuat Islam dapat masuk dan menyebar dengan damai di Sumatera selatan khususnya dan Pulau Sumatera umumnya.

Sumber: xrpl1absen25ray.epizy.com
Share:

Jejak Kedatangan Tiongkok pertama kali ke Indonesia


UTUSAN kerajaan dari Jawa datang ke kerajaan di Tiongkok pertama kali muncul dalam catatan Hou Han Shu bab ke-6 dan bab ke-116. Dokumen Tiongkok klasik ini disusun sejarawan istana masa Dinasta Han (206 SM-220 M). Sementara catatan pertama kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara baru muncul pada abad ke-5.

Seorang biksu bernama Faxian melakukan perjalanan darat dari Tiongkok ke India pada 400 M. Dalam perjalanan pulang lewat laut, dia mengunjungi Jawa pada 414 M. Catatan perjalanannya berjudul Catatan Negara-Negara Buddhis tak terlalu banyak mengulas soal Jawa.

“Saya curiga (pelawat Tionghoa, red.) belum berlayar sendiri. Tetapi pakai perahu atau kapal besar milik India. Sebab Faxien tidak melaut dengan kapal Tiongkok, tapi pakai kapal dagang India,” kata Nurni Wahyu Wuryandari, peneliti dari Pusat Studi Cina di Universitas Indonesia, saat ditemui di acara Borobudur Writers & Cultural Festival ke-7, di Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah.

Berabad-abad setelah masa Faxian tidak ditemukan adanya catatan perjalanan para pengelana Tiongkok ke Nusantara. Satu-satunya sumber yang tersedia kemudian adalah catatan dalam Sejarah Dinasti.

W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menerjemahkan catatan Sejarah Dinasti Liu Song (420-479 M). Di dalamnya disebutkan pada 435 M, raja negara Ja-va-da, Sri Ba-da-duo-a-la-ba-mo mengirimkan utusan untuk mempersembahkan sepucuk surat dan sejumlah hadiah.

“Kalimat yang tidak penting ini diterjemahkan karena nama negara ini mirip degan Ya-va-di yang digunakan oleh Faxian,” tulis Groeneveldt.

Secara resmi bangsa Tionghoa pertama datang ke Nusantara baru pada abad ke-7 M pada masa Dinasti Tang. Ketika itu letak geografis Nusantara, khususnya Jawa, sudah tercatat.

Pada masa berikutnya, Dinasti Sung (960-1279 M), rute perjalanan ke Nusantara sudah dijabarkan lebih lengkap. Dalam Catatan Sejarah Dinasti Song, Jawa disebut terletak di Samudra Selatan. Jika pelaut berangkat dari ibukota ke arah timur, dalam waktu sebulan akan menemukan lautan. Dari sana berlayar dengan kapal selama sebulan setengah akan sampai di Pulau Kondor, Vietnam. Di barat, laut berjarak 45 hari. Di selatan, laut berjarak tiga hari dan dari sana, jika selama lima hari akan sampai di Da-zi. Goreneveldt menerjemahkan Da-zi sebagai orang Arab di pantai barat Sumatra.

Jarak dari ibukota ke utara (Kalimantan) memakan waktu 15 hari. Lima belas hari kemudian akan sampai di pantai timur Sumatra. Tujuh hari kemudian sampai di Kora, wilayah barat Semenanjung Malaya. Akhirnya tujuh hari lagi menuju Chaili-ting (mungkin sebuah pulau yang terletak di mulut Teluk Siam, yang terletak di jalan menuju tanah Jiaozhi (Annam bagian utara) dan menuju Guangzhou.

“Mulai dari Dinasti Tang mungkin sudah pakai kapal sendiri (kapal Tiongkok, red.).

Ketika Dinasti Yuan berkuasa (1279-1368), rute ke Jawa yang tercatat dalam Sejarah Dinasti Yuan berbeda. Bangsa Mongol itu ingin mencari rute yang paling singkat menuju Jawa. Sebabnya, kepentingan mereka adalah mengirimkan angkatan perangnya.

Sebelumnya, Dinasti Yuan mengirim utusan ke Kerajaan Singhasari pada 1289. Namun Raja Kertanegara merusak muka utusan itu sehingga Khubilai Khan murka.

Namun, rute itu bukannya mudah malah berisiko besar. Apalagi latar belakang orang-orang Mongol bukan bangsa pelaut, melainkan bangsa pemelihara kuda. “Berhasil tapi sulit sekali. Kalau dari narasi, katakanlah mereka membawa 10.000 balatentara yang sampai ke Jawa tinggal 3.000 orang.

Setelah peristiwa itu, hubungan Tiongkok dan Nusantara, khususnya Jawa, renggang. Namun tak berlangsung lama. Begitu Dinasti Ming berkuasa, utusan Tiongkok kembali datang ke Jawa. “Yang mengambil inisiatif justru Ming. Karena dia perlu memberikan pengetahuan kepada kerajaan lain kalau telah berdiri dinasti baru di Tiongkok.

Namun Catatan Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) tak menyertakan lagi narasi rute ke Nusantara. “Karena mereka mengganggap orang sudah tahu. Kenapa? Karena catatannya sudah lengkap dari dinasti awal.

Bangsa Tiongkok memang punya tradisi mencatat yang sudah sangat tua. Katanya, mereka tak hanya menerbitkan buku, tapi juga melakukan penerbitan dan menghimpun buku penting dan langka yang pernah terbit di Tiongkok dalam satu serial.

Sumber: historia
Share:

Riwayat singkat Sultan Thaha Syaifuddin



Sultan thaha syaifuddin dilahirkan di Jambi kira kira pertengahan tahun 1816.

Beliau adalah putra sultan Muhammad Fahruddin yang bergelar Sultan Keramat.
Sejak kecil beliau telah memperlihatkan tanda tanda kecerdasan dan ketangkasan,beliau adalah seorang bangsawan yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa.

Sultan Thaha Syaifuddin di didik dengan pelajaran tauhid agama islam sehingga pada masa kecilnya kepercayaan akan kekuasaan Allah sangat kuat.
Dari kepercayaannya kepada Allah itulah timbul sifat sifat yang luar biasa,berani dan ikut dalam segala macam pekerjaan.

Menginjak usia dewasa, Sultan Thaha Syaifuddin makin disenangi rakyat Jambi karena kecerdasannya dan keberaniannya dalam melawan penjajah belanda,apalagi waktu itu beliau menjabat sebagai perdana menteri.

Setelah naik tahta menjadi Raja Jambi beliau segera mengambil tindakan untuk membatalkan kesepakatan dengan Belanda yang di adakan sebelumnya.
Pembatalan tersebut diikuti dengan usaha menghimpun semua kekuatan rakyat.

Semua Pangeran dan Panglima perang diajak musyawarah yang menghasilkan beberapa keputusan.
Antara lain:

1. Perlu mengadakan persiapan bahan makanan yang cukup untuk menghadapi situasi perang melawan Belanda.

2. Untuk menyerang belanda tidak perlu menunggu komando dan di haruskan membuat benteng.

3. Tidak akan menyerah kepada Belanda serta tidak akan berkhianat kepada teman seperjuangan dan bangsa sendiri.

Dalam peperangan melawan belanda beliau di bantu oleh beberapa panglima dan pimpinan rakyat jambi yang terkenal gagah berani diantaranya.

- panglima Depati Pandan yang mempertahankan benteng tanjung gagah.

- pangeran Puspo yang mempertahankan benteng penggantung.

- pangeran Haji Umar dan Raden Hamzah yang mempertahankan benteng limbur tebo.

- panglima Tepis dan Depati Rio yang mempertahankan benteng Rimbo.

Dalam tahun 1904 terjadi pertempuran yang sangat hebat yang terjadi di dusun Betung berdarah dan merenggut banyak korban di kedua pihak .

Belanda dapat mempersempit ruang gerak perlawanan sultan thaha dengan politik adu domba dan dapat merebut benteng pertahanan sultan thaha syaifuddin karena didukung persenjataan yang lengkap.
Dan para panglima perangnya satu persatu gugur atau tertangkap oleh Belanda.

Keadaan tersebut mengakibatkan pertahanan dan perlawanan rakyat jambi menjadi lemah namun semangat juang mereka tetap tinggi.

Akhirnya dalam suatu serbuan pada waktu subuh,pasukan belanda dapat menyergap pasukan sultan Thaha Syaifuddin di sebuah talang di dusun Betung berdarah. Serangan tersebut disambut pasukan sultan Thaha Syaifuddin dengan perlawanan yang gigih dan sengit.
Karena kekuatan yang tidak seimbang dalam pertempuran tersebut,sultan Thaha Syaifuddin gugur.

Jenazah beliau dimakamkan di kelurahan Pasar Muara Tebo kecamatan Tebo Tengah kabupaten Tebo.

Pada tahun 1977 pemerinta RI menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Sultan Thaha Syaifuddin

Sumber: wattpad.com
Share:

Cerita rakyat asal usul angso duo jambi


Konon, pada masa Jambi masih merupakan bagian dari kerajaan Pagaruyung yang berada dibawah naungan kerajaan Majapahit, ada seorang putri cantik bernama Putri Selaras Pinang Masak.
Ia bertempat tinggal di hulu sungai Batanghari, yang membelah wilayah Jambi.

Karena tidak mau tunduk kepada kekuasaan Majapahit, yang saat itu akan berpisah dari kerajaan Pagaruyung, maka ia pun melarikan diri dan dikejar-kejar oleh tentara Majapahit. Di dalam perjalanannya itu ia mendapat petuah, untuk mencari lokasi baru untuk tempat tinggalnya kelak .

Lalu sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya, ia melepaskan dua ekor angsa, jantan dan betina di sungai Batanghari. Dan melihat di mana kedua angsa itu berhenti berenang, sebagai titik lokasi untuk mendapatkan kepastian di mana ia harus membangun istana yang baru. Pengganti istana yang ditinggalkannya di Pagaruyung.

Akhirnya ia melihat kedua angsa berhenti, di sebuah daratan . Dan di sanalah ia membangun istananya kembali.
Lalu sejak itu, legenda tentang Angsa Dua, atau Angso Duo dalam dialek Jambi, menjadi terkenal dan tercatat dalam sejarah berdirinya kerajaan Melayu Jambi .

Benar tidaknya kisah ini, wallahu alam…karena ini adalah hikayat turun temurun yang tetap hidup dalam masyarakat Jambi.

Cerita rakyat asal usul Angso Duo versi lainnya:

konon jaman dahulu kala sekitar tahun 1500an, hiduplah seorang raja kerajaan melayu yang bernama Orang kayo Itam yang sakti dan Pemberani (mungkin nama ini sekaligus menjelaskan kekayaan dan bentuk fisiknya). Orang Kayo Itam ini menikahi Putri dari Temenggung Merah Mato dari Sumatra Barat (Pagaruyung) yang bernama Putri Mayang Mangurai. Sebagai Hadiah pernikahan, Mertuanya memberikan sepasang Angsa jantan dan betina serta Perahu Kajang Lako.

Mereka disuruh untuk melepaskan Sepasang angsa tersebut ke sungai Batanghari dan mengikuti kemanapun kedua angsa tersebut berenang.

Bila Angsa itu berhenti dan membuat sarang untuk bertelur, maka lokasi tempat berhentinya Angsa itu adalah lokasi untuk membentuk kerajaan baru.

Singkat cerita, akhirnya mereka menemukan lokasi kerajaan baru tersebut yang kini dikenal sebagai Kota Jambi.
Makanya Kota jambi dikenal juga sebagai Tanah Pilih.

Tanah yang dipilih oleh angsa tersebut menetap,
Dan sekarang "Angso duo" menjadi ikon kebanggaan orang Jambi.

Sumber: google dan berbagai referensi lainnya.
Share:

Kerajaan misterius di sumatera

SRIWIJAYA tak lagi disebut dalam sumber luar negeri maupun prasasti lokal pada abad ke-14. Kerajaan itu telah bergeser ke pedalaman di hulu Sungai Batang Hari di mana raja Adityawarman meninggalkan arca dan prasasti dari tahun 1347.

Setidaknya ada tiga kerajaan semenjak nama San-fo-tsi itu tak lagi kondang, yaitu Kerajaan Dharmaçraya, Palembang, dan Minangkabau.

Menurut sejarawan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Kerajaan Minangkabau didirikan oleh Adityawarman setelah berangkat ke Sumatra pada 1339. Sebelumnya, sebagaimana disebut Prasasti Manjusri (1341 M) di Candi Jago, dia menaklukkan Bali bersama Gajah Mada.

Sebenarnya, Adityawarman adalah putra Majapahit, keturunan Melayu. Dia keturunan Mahamantri Adwayawarman. Darah Melayu dari Dara Jingga, putri Kerajaan Dharmaçraya. Namun, Adityawarman tidak berhasil menjadi raja di Dharmaçraya, tempat kakeknya memerintah. Di sana sudah ada raja keturunan Tribuwanaraja Mauliwarmadewa.

“Adityawarman lalu mendirikan kerajaan baru di Pagaruyung,” tulis Slamet.

Dari prasasti yang banyak ditemukan di daerah Minangkabau, dapat diketahui pada pertengahan abad ke-14 ada raja yang memerintah di Kanakamedinindra (raja pulau emas). Namanya Adityawarman.

Pada 1347, setelah meluaskan kekuasaannya sampai Pagaruyung, Minangkabau, Adityawarman mengangkat dirinya menjadi maharajadhiraja bergelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa.

Sebelum Adityawarman datang, telah ada dua kerajaan yaitu Dharmaçraya dan Palembang sebagai pelanjut kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Keberadaan kerajaan itu diperkuat catatan dari Dinasti Ming. Kronik ini membedakan kerajaan Melayu dan San-fo-tsi.

“Yang dimaksud dengan Kerajaan Melayu adalah kerajaan di daerah Jambi. Pusatnya di Dharmaçraya. San-fo-tsi ada di Palembang bekas Sriwijaya,” jelas Slamet.

Sejarawan Anthony Reid dalam Sumatra Tempo Doeloe berpendapat, kemungkinan kerajaan Budha Raja Adityawarman memberi jalan bagi munculnya tradisi kekuasaan raja di Sumatra Barat bagian tengah. “Tradisi itu hidup berdampingan tetapi kurang harmonis dengan masyarakat Minangkabau yang matrilineal dan pluralistik,” tulis Reid.

Sekira tiga abad setelah masa Adityawarman, raja-raja Minangkabau di Pagaruyung dikenal punya kharisma kuat bagi masyarakat pesisir, hampir di seluruh Pulau Sumatra. Sejak tahun 1660-an perwakilan Belanda di pantai barat Sumatra mulai berurusan dengan raja-raja itu, di sebuah tempat yang disebut “Negeri”.

“Sementara Belanda yang menguasai Melaka untuk VOC setelah 1641 mengetahui, meski samar tentang penguasa Minangkabau di tempat yang mereka sebut Pagaruyung,” kata Reid.

Thomas Diaz, salah satunya. Dia yang bekerja pada VOC, diutus Gubernur Belanda untuk Melaka, Cornelis van Quelbergh, pada 1683 pergi ke hulu Sungai Siak untuk menjalin hubungan dengan Raja Minangkabau.

Peneliti masa kini, kata Reid, menyatakan kalau deskripsi Diaz tentang Pagaruyung tak sesuai dengan lokasi Pagaruyung modern di Sungai Selo, Tanah Datar. Sementara Pagaruyung yang dideskripsikan Diaz terletak jauh ke timur di Sungai Sinaman, antara Buo dan Kumanis.

“Kemungkinan nama Pagaruyung dipindahkan ke lokasi sekarang, sekira akhir abad ke-17, sebagai persaingan kekuasaan yang dulu terjadi antara beberapa cabang kerajaan,” jelas Reid.

Dalam perjalanannya itu, Diaz menempuh banyak bahaya. Menurut catatannya, dia harus melewati hutan belantara, gunung terjal, rawa-rawa, dan tumbuhan berduri untuk sampai di istana raja.

Catatan Marco Polo

Pada masa yang lebih tua, keberadaan kerajaan-kerajaan selain Sriwijaya dicatat pula oleh Marco Polo. Catatannya dia buat berdasarkan perjalanannya bersama ayah dan pamannya yang merupakan pedagang Venesia.

Kata Reid, sebenarnya Marco Polo memberikan deskripsi yang relatif akurat kepada Eropa tentang pesisir utara Sumatra, meski banyak yang tak percaya pada kisahnya.

Pulau Sumatra atau yang disebut Marco Polo dengan “Jawa Kecil” adalah daerah di Asia Tenggara yang dia tinggali cukup lama pada 1290-an. Kunjungan keluarga Marco Polo kala itu bertepatan dengan pembentukan negara pelabuhan Islam pertama di sepanjang pantai utara Pulau Sumatra.

Di awal catatannya, dia menyebut ada delapan kerajaan di Pulau Sumatra yang memiliki bahasa masing-masing. Namun, dia hanya menjelaskan empat kerajaan.

Pertama, Kerajaan Ferlec atau Perlak. Penduduknya menyembah berhala. Karena sering berhubungan dengan pedagang Saracen yang berlabuh di sana, para penduduk kota menganut ajaran Muhammad. Sementara penduduk desa masih hidup seperti binatang.

Kedua, Kerajaan Basman atau Peusangan. Warga Peusangan mengaku setia pada Kubilai Khan. Namun, mereka tak mengirim upeti kepada kaisar Mongol itu. Lokasi mereka yang terpencil sulit terjangkau oleh utusan Mongol. Mereka hidup tanpa hukum dan menganut hukum binatang buas dan kejam.

“Tak ada satu pun tempat di seluruh Hindia atau pun di wilayah lain yang lebih liar pernah ditemukan manusia yang begitu kecil sebagaimana yang ada di sini,” catat Marco Polo.

Ketiga, Kerajaan Sumatra atau Samudera, yang kemudian dikenal sebagai Pasai. Marco Polo dan keluarganya lima bulan di sana, menunggu cuaca yang mendukung untuk melanjutkan perjalanan. Penduduk di sana memuja berhala dan orang-orangnya liar. Mereka punya raja yang kaya dan sangat berkuasa. Sang raja pun menyatakan dukungan pada Khan Yang Agung.

Keempat, Kerajaan Dragoian atau Pidie. Kerajaan ini punya raja dan bahasa sendiri. Masyarakatnya juga menyatakan dukungan pada Khan Yang Agung. Mereka menyembah berhala.

Keadaan Pulau Sumatra sudah berubah ketika Ibn Batuta sampai ke Kerajaan Samudera Pasai pada 1345. Kota yang dia catat dengan nama Sumutra itu, sudah diperintah seorang sultan. Mereka punya kadi dan ahli hukum. Sang sultan juga rajin sembahyang Jumat.

“Sebuah kota yang besar dan indah, yang dikelilingi dinding dan menara-menara kayu,” ujar Batuta dalam catatannya yang disusun sepuluh tahun kemudian dalam perjalanan kembali ke Maroko.

Sumber: historia
Share:

Pendukung

Artikel Populer

 
Back to Top